kita menghadapi kenyataan pahit,bahwa apa yang ada didepan mata kita tak sesuai dengan apa yang kita harapkan terjadi.terkadang membuat
Puisipertama Wiji Thukul tentang becak adalah "Nyanyian Abang Becak" yang dituliskan pada tahun 1984. Puisi ini menggambarkan dampak beruntun dari kenaikan BBM. Dampak itu tidak hanya soal harga-harga yang semakin membubung tinggi tetapi juga memicu pertengkaran keluarga. "jika harga minyak mundhak, simbok semakin ajeg berkelahi dengan bapak,
Karya Widji Thukul. Puisi ini bercerita tentang pembangunan jalan di banyak tempat. Juga mengisahkan tentang pekerjaan sebagai tukang becak. Dari buku: Aku Ingin Jadi Peluru. Waktu penulisan: 22 November 1990. —. aspal leleh tengah hari. silau aku oleh sinar matahari. gedung-gedung baru berdiri.
Puisipuisi tukang becak Puisi untukmu saudaraku Salah satu penggalan bait dari ketiga puisi tersebut. "kalut dan pedih Asap mengabur di udara tanah kelahirannya Isak tangis bayi mungil luput dari pandangan mata tua Tanah-tanah memerah di antara belukar api menyala". Selengkapnya dari bait ini, disimak saja puisinya berikut ini
JOMBANG- Selamet, 62, seorang tukang becak asal Kecamatan Diwek dibekuk unit PPA Satreskrim Polres Jombang, Senin (28/3) pagi. Ini setelah ia dilaporkan orang tua korban lantaran telah mencabuli dan menyetubuhi anaknya. "Pelaku sehari-hari bekerja sebagai tukang becak," terang AKP Teguh Setiawan Kasatreskrim Polres Jombang.
CQnA. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Cerita Singkat Seorang Tukang Becak Assalamu'alaikum Warahmatullahi WabarakatuhSelamat pagi, siang, sore dan kapanpun waktu kalian lagi baca artikel ku hehe.. berjumpa lagi dengan artikel ku. Bagaimana nih kabar dari teman-teman semuanya..? ? Aku berharap semoga kalian dalam keadaan sehat wal afiat, dijauhkan dari segala marabahaya serta selalu dalam lindungan Allah SWT. Pada kesempatan kali ini, melalui artikel ini aku ingin berbagi cerita kepada kalian semua mengenai pengalaman aku bersama dengan orang yang bisa dikatakan kurang mampu namun mereka memiliki semangat yang tinggi untuk terus hidup dan pantang menyerah dengan apapun keadaan yang sedang dilalui. Kali ini aku bersama dengan seorang temanku untuk melakukan observasi lalu menjumpai seorang bapak yang berada di pinggir jalan dengan membawa sepeda yang terdapat kardus bekas dan barang bekas lainnya. Tidak berfikir lama akhirnya aku dengan temanku berniat untuk menghampirinya. Namun belum sampai di hadapan bapak tersebut, aku berunding dengan temanku untuk jadi apa tidak melakukan wawancara dengan beliau. Karena kami juga hanya berdua tanpa adanya laki-laki, pastinya kami takut kalau nanti terjadi apa-apa. Disisi lain kami juga takut kalau bapak tersebut bukanlah orang normal melainkan orang dengan sedikit gangguan jiwa. Jika di bilang gangguan jiwa juga belum tentu benar sepenuhnya karena tidak ada hal yang menunjukkan hal tersebut. Maaf sebelumnya ya teman-teman, kami disini bukan bermaksud untuk su'udzon terhadap orang lain. Kami disini hanya lebih berhati-hati terhadap orang yang belum kami kenal sebelumnya. Dan akhirnya kami memutuskan untuk mencari orang lain yang lebih meyakinkan untuk di ajak berbicara. Di sepanjang jalan yang telah kita lalui, kita belum menemukan orang yang tepat. Dan setelah kita muter-muter di jalan, akhirnya kita menemukan seseorang yang cocok untuk di ajak bertukar cerita yang pastinya hal tersebut sangat menginspirasi buatku dan aku juga berharap hal ini menginspirasi teman-teman semuanya. Ternyata bukan suatu hal yang mudah untuk menemukan seseorang yang tepat dalam artian seseorang yang pantas karena pada saat itu kami juga sedang memberikan sedikit santunan kepada orang yang lebih membutuhkan. Dan hal itu juga kami lakukan sebagai ucapan rasa syukur kepada sang pencipta atas semua karunia dan nikmat yang telah diberikan kepada kami, sehingga dapat mengingatkan kami untuk selalu bersyukur karena diluar sana masih banyak orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan kami. Okeyy teman-teman lanjut aku mau menceritakan tentang bapak yang berprofesi sebagai tukang becak tersebut. Sedikit aku akan menjelaskan kepada kalian semua, Bapak tersebut bernama Suparno yang bertempat tinggal di Wajak, Malang, Jawa Timur. Beliau tinggal bersama dengan istrinya yang bernama Wini. Beliau dan istri dikaruniai 7 orang anak yang kini sudah berumah tangga semuanya dan tidak tinggal bersama Bapak Suparno. Istri dari Bapak Suparno kini hanya berprofesi sebagai IRT Ibu Rumah Tangga .Dari tahun 1970 beliau sudah memulai untuk bekerja sebagai tukang becak hingga sekarang ini umur beliau 80 tahun. Dapat disimpulkan bahwasannya Bapak Suparno sudah menjadi tukang becak sekitar 52 tahun. Sudah lama banget ternyata ya teman-teman... Aku yakin sih ini semua bukanlah suatu pilihan yang beliau mau, karena pada waktu itu Bapak Suparno juga menjelaskan bahwasannya dulu itu sangat minim tempat pendidikan dan juga terkendala biaya untuk menuntut ilmu. Bapak Suparno juga menjelaskan bahwasannya kini sudah ada peningkatan karena dulu beliau mencari rezeki sebagai tukang becak sepeda kini sudah memiliki becak motor. Beliau ganti menggunakan becak motor karena juga faktor usia. Dengan usia yang kini 80 tahun, beliau sudah tidak kuat apabila menggunakan becak sepeda. Jika dijabarkan mengenai riwayat pendidikannya, pada tahun 1950 beliau dulu pernah belajar di Sekolah Rakyat. Menurut yang beliau jelaskan bahwasannya SR Sekolah Rakyat tersebut setara dengan SD Sekolah Dasar . Namun dalam paparan yang beliau jelaskan, SR ini berbeda dengan SD karena pada waktu itu sekitar tahun 1960 baru dibangun menjelaskan sedikit tentang anak-anaknya, bahwasannya mereka rata-rata hanya sanggup menempuh pendidikan sampai tingkat SMP saja. Dan diantara 7 orang anaknya tersebut, ada yang kini menjadi sopir dan pekerjaan lainnya. Beliau sangat bersyukur bahwasannya kini anak-anaknya mendapat pekerjaan yang layak dan tidak menjadi pengangguran. Setidaknya anak-anaknya tersebut dapat mencukupi kebutuhan keseharian dari masing-masing Suparno ini berangkat dari rumahnya di Wajak untuk mencari nafkah dengan mengendarai becak motornya pada pukul 9 pagi dan pulang hingga menjelang malam. Beliau juga menjelaskan bahwasannya penghasilan yang diperoleh dari profesi sebagai tukang becak tersebut tidak dapat dipastikan dalam seharinya dapat uang seberapa. Bahkan dalam sehari beliau juga pernah memperoleh penghasilan hanya sebesar 50 ribu rupiah saja. Beliau juga tidak hanya mangkal dalam satu tempat, namun sering berpindah-pindah untuk mendapatkan penumpang. Dan mengenai upah yang diberikan oleh penumpang tidak mesti juga harus seberapa, karena beliau mengukur berdasarkan jauh atau dekatnya tujuan dari penumpang. Kalau misalkan tempatnya jauh beliau bisa mendapatkan upah yang banyak begitupun sebaliknya. Dan apabila penumpang tersebut membawa barang bawaan yang banyak itu juga akan mempengaruhi harga yang diberikan oleh Bapak Suparno. Sedikit cerita yang dapat aku bagikan kepada kalian semua, apabila ada suatu kesalahan dalam penulisan kata dari aku pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya ya teman-teman..Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Lihat Diary Selengkapnya
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. [caption caption="sumber menyengat,Memanggang legam kulit Yang berkerinyut penuh kerut Melukis gurat kerasnya peradaban Sepasang kaki tanpa sandal, menantang panasnya aspal... Ah .... tubuh berpeluh ini Bukanlah nestapa ... Terbayang di pelupuk mataTentang harap anak istri ,Demi seperiuk nasi Sepasang betis kekar ,Mengayuh ...sekuat tenagaBerlomba menghindar kejaran Pamong Praja Ah ....penguasa-penguasa...!!!Mengapa mengapa kau tega ?Mengapa kau tega bersekutu dengan nasib ? Nasib yang kian menghimpit , dan penguasa berhati sempit ...Sepasang betis berpacu kencang ,Mengayuh ,,,tanpa peduli peluh ....Menghindar , bersembunyi dilorong kehidupanMenghindari kejaran Pamong Praja Dan bertekuk dilutut sang nasib..Dalam bisik lirih " Maaf istriku,hari ini periuk kita tak ada nasi" Jakarta, 16 Febuari 2016By Annie Moengiel Lihat Puisi Selengkapnya
Tim indoSastra Pencari Karya Sastra yang Menakjubkan, Mengharukan, dan Tulus Sastra angkatan reformasi, bentuk puisi Karya Widji Thukul Ini adalah puisi tentang seorang tukang becak yang berusaha bertahan hidup di tengah ketidakberdayaannya dan badannya yang sudah sangat capek. Dia kembali berduka melihat moda transportasi lain seperti bis kota makin digemari masyarakat, dan transportasi becak mulai ditinggalkan Dari buku Aku Ingin Jadi Peluru Waktu penulisan Bulan Juni 1987 — bapak tua kulitnya coklat dibakar matahari kota jidatnya berlipat-lipat seperti sobekan luka pipinya gosong disapu angin panas tenaganya dikuras di jalan raya siang tadi sekarang bapak mendengkur dan ketika bayangan esok pagi datang di dalam kepalaku bis tingkat itu tiba-tiba berubah jadi ikan kakap raksasa becak-becak jadi ikan teri yang tak berdaya Originally posted 2013-01-20 080902. Republished by Blog Post Promoter
Puisi berantai Orang Gila,Tukang Becak dan Penjual Oncom A. Pada suatu hari, aku di tarik paksa oleh beberapa orang yang sama sekali tak aku kenali sebelumnya. Aku takut, dan akupun langsung di dorong ke dalam… B. becak. Aku tukang becak yang unyu-unyu cetar membahana. Setiap hari, ku goes, goes dan terus ku goes untuk mengantarkan penumpangku ke rumahnya yang… C. kotor, bau, jiji, jorok laler berterbangan dimana-mana. Membuatku semakin hari tak betah menjadi penjual oncom terenak di pasar ini. Tapi, aku senang sih karena aku punya… A. banyak teman aku setiap harinya tak kesepian di rumah baruku ini karena teman-temanku yang ceria, selalu tertawa sepertiku. Tapi, aku kesal sama orang-orang yang jahat itu. Karena setiap kita tak mau menuruti keinginan mereka, mereka mengeluarkan benda yang ku tau itu obeng dan mereka memasukkannya ke dalam… C. Oncomku rasanya enak sekali ku buat oncomku dengan cinta, ku galey dengan lembut dan terakhir ku taburi dengan kucuran keringat. Sehingga rasanya asin gurih dan lezatt. kalau menurut pelangganku, oncomku 11, 12 lah dengan rasa pizzahut walau seharian aku kucel, bau, dekil in the kummel. Tapi aku senang sekali oncom-oncomku kini laris manis seperti aku. Dan aku pun senang karena di temani… B. Kawan-kawan becakku memang sudah tua-tua tapi mempunyai jiwa muda yang menggelora sehingga kami pun selalu… A. Tertawa, menjerit, bergoyang bersuka ria kami tak pernah galau karena kami selalu menghibur satu sama lain. Dan kami… C. Selalu meradang…Aku kini selalu meradang jiwaku kini resah gelisah, gundah gulana meratapi nasibku yang semakin hari semakin… B. Laku becakku semakin ramai di tumpangi dengan uang hasil menarik becakku, akupun dapat pergi ke… A. Rumah sakit jiwa hahaha, itu rumah yang paling istimewa buatku penghuninyapun yang imut, lucu, dan menggemaskan seperti… C. Oncomku betapa malangnya nasibmu setiap hari, kau menemaniku di tempat yang suram kelam ini tapi sayangnya kau tak juga laku dan akhirnya menjadi… B. Becak idaman para penumpang setiap harinya becakku di banjiri oleh penumpang-penumpang berduit karena tampangku yang mirip… A. Orang gila? Kau memanggilku orang gila? Gak salah? Hahaha kamu tuh yang gila, karena muka kamu bulukan dipenuhi oleh… B. Uban putih-putih menghiasi kepalaku tapi aku bangga, walau ini menandakan aku sudah lanjut usia tapi kata penumpangku wajahku tampan mirip cakra khan dan yang… C. Keriput, menyusut di penuhi semut-semut yang imut-imut. Sehingga orang takut membelinya oh oncomku… akankah kau… A. Berhenti menyuntikkan cairan itu padaku. Aku capek, tapi tak kau hiraukan. Aku sakit, sakiitt sekali lebih sakit melebihi orang yang putus cinta bila kau terus… B. Memberikan cinta pada setiap penumpang itu sudah kewajibanku tapi, jika yang ku beri cinta itu berkhianat apakah harus masih ku berikan cinta? Lebih baik aku beri saja… C. Oncom-oncomku yang sudah entah kemana mungkin sekarang sudah menyatu dengan bau pasar yang tak sedap, bercampur dengan cairan hitam got-got atau mungkin sudah menjadi lalaban tikus comberan yang besar-besar aku bangkrut, uangku kini sudah habis, modalku tak kembali hingga akhirnya aku harus meninggalkan… A. Rumah sakit jiwaku aku tak mau lagi di rumah itu rumah itu aneh, aku sebel, aku mau kabur aja, dan aku pun memutuskan untuk kabur lewat… C. Selokan yang mengalir menyebarkan aroma khasnya, itu menjadi kenanganku semasa hidupku di pasar menjadi… B. Tukang becak itu profesiku dulu, tapi naas becakku kini di curi manusia serakah yang tak berperikemanusiaan sehingga ia tega untuk… A. Menceburkan diriku ke dalam lumpur coklat, agar aku dapat kabur dari rumah gila itu eoh sungguh menjijikan. Lumpur ini bersatu padu dengan kotoran kerbau yang menjijikan. Tapi, aromanya sangat sedap, sehingga akupun mencoba… C. Mencari lowongan kerja baru. Aku tak mau lagi tinggal seharian di pasar yang lusuh dan kelam itu, aku tak mau di kerumuni oleh laler-laler lagi, aku tak mau aku tak mau… B. Menjadi tukang becak lagi… dan kini saatnya aku berkata selamat tinggal becakku yang unyu-unyu… A. Selamat tinggal rumah sakit jiwaku yang lucu… C. Selamat tinggal pasar ku yang kotor dan bau… aku akan mencari pekerjaan yang lain dan berkata… A,B,C, S E M A N G A T!!!
Thursday, May 14, 2015 Puisi abang tukang ojek. Pengertian ojek adalah transportasi umum tidak resmi berupa sepeda motor atau sepeda yang umumnya disewakan dengan cara memboncengkan penumpang. Dengan harga yang ditentukan dengan cara tawar menawar dengan sopirnya dahulu setelah itu sang sopir akan mengantar ke tujuan yang diinginkan penumpangnya. Berkaitan dengan ojek, dibawah ini, puisi berjudul abang tukan ojek, bagaimana puisinya, untuk lebih jelasnya, silahkan disimak saja puisinya berikut ini. Puisi Abang Tukang Ojek Oleh Penyair Kecil Abang tukang ojek berbaris Sandarkan kepastian mengantri menulis Mengeringkan badan tersumbat oleh keringat Sehari tak jalan, nasibmu begitu hitam pekat Roda-rodamu menginspirasi kami Terus berputar setiap tarikan yang kau bawa Untuk sebutir nasi yang kau selalu dinanti Tapi tak selalu sepadan dengan semua, congkak- congkak berdiri menentangnya Nasib-nasib banyak dibully Dari kecil sampai saat ini Kurus mengering disiram sajak-sajak surya Kau masih setia di pengkolan membawa segudang cinta, cerita untuk keluarga Dan tak ada gelisah resah di wajah yang basah Tetap riang mengambang di bawah siang Bukan sendiri kau berjuang Banyak sekali kawan-kawanmu yang berdiri menantang Akan ketimpangan keadilan negeri ini yang teramat bimbang Jakarta 14 Mei 2015 Demikianlah puisi abang tukang ojek. Simak/baca juga puisi puisi yang lain di blog ini. Semoga puisi di atas menghibur dan bermanfaat... Sampai jumpa di artikel puisi selanjutnya dengan label aneka puisi. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.
puisi tentang tukang becak