Istilahepistimologi pertama kali dipakai oleh L.F. Ferier pada abad 19 di Institut of Metaphisics (1854). Epistimologi didefinisikan sebagai cabang filsafat yang bersangkutan dengan sifat dasar dari ruang lingkup pengetahuan pra-anggapan dan dasar - dasarnya serta realitas umu dari tuntutan pengetahuan sebenarnya. [1] Sedangkan secara etimologi, epistimologi berasal dari bahasa Yunani Merekabereanggapan bahwa kebudayaan lama itu telah banyak memperbuat kebaikan untuk umat manusia. Bagi aliran esensialisme mereka berpedoman padazaman renaissance yang mana sumber utama dari kebudayaan ini terletak dalam ajaran para ahli filsafat, ali pengetahuan yang telah mewariskan kepada umat manusia segala macam ilmu pengetahuan yang elah Kelebihandan Kelemahan Aliran Esensialisme - Kelebihan: a. Essensialisme membantu untuk mengembalikan subjek matter kedalamm proses pendidikan namun tidak mendukung parenialisme bahwa subjek matter yang benar adalah realitas abadi yang disajikan dalam buku-buku besar dari peradaban barat. Great book tersebut dapat digunakan namun bukan untuk Pekanlalu Honda Automobile Thailand Co., Ltd meluncurkan Honda City e:HEV 2022 di Negeri Gajah Putih. Di sana, sedan sport premium dengan sistem e:HEV full-hybrid tersebut ditawarkan dalam dua model, EL dan RS yang dibandrol 1.129.900 baht hingga 1.259.000 baht atau sekitar Rp473,1 juta sampai dengan Rp527,2 juta..Kelebihan dan Kekurangan Sedan Honda Grand Civic GX - Honda Grand Civic GX Filsafatpendidikan esensialisme, perenialisme, Filsafat Pendidikan Idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk Oc1Z9AV. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Halo teman-teman! Kali ini saya akan menganalisis aliran filsafat perenialisme beserta tokoh Pengertian perenialisme aliran filsafat pendidikanSecara etimologis kata perenial berasal dari bahasa latin "perenis" Yang artinya kekal selama lamanya atau abadi sehingga filsafat perenial dikatakan sebagai filsafat keabadian. Aliran ini lahir pada abad ke-20. Aliran ini lahir sebagai suatu reaksi pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali artinya sebagau suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang zaman modern terutama pendidikan zaman sekarang perlu kembali ke masa lampau. Baca juga Filsafat Pendidikan PerenialismeB. Tokoh filsufnya1. PlatoSebagai filosof plato memiliki kedudukan yang sangat istimewa, ia pandai menyatukan puisi,ilmu,seni dan filosofi. Pandangan abtrak sekalipun dapat dilukiskan dengab gaya bahasa yang indah. Menurutnya tujuan pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asa normative dan melaksanakannya dalam aspek kehidupan. 2. AristotelesIa merupakan murid dari plato. Menurutnya tujuan pendidikan adalah pendidikan membentuk kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan Thomas aquinas 1 2 Lihat Filsafat Selengkapnya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Filsafat pendidikan adalah ilmu yang mempelajari dan berusaha mengadakan penyelesaian terhadap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Secara filosofis, pendidikan adalah hasil dari peradaban suatu bangsa yang terus menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita dan tujuan filsafat serta pandangan hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang melembaga di dalam masyarakatnya. Pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang bersifat modernisasi dapat pula menjadikan pendidikan itu kehilangan arah. Berhubung dengan itu pendidikan haruslah bersendikan atas nilai-nilai yang dapat mendatangkan kestabilan. Agar dapat terpenuhi maksud tersebut nilai-nilai itu perlu dipilih yang mempunyai tata yang jelas dan yang telah truji oleh waktu. Nilai-nilai yang dapat memenuhi adalah berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama 4 abad belakangan ini, dengan perhitungan Zaman Renaissance, sebagai pangkal timbulnya pandangan-pandangan esensialistis awal. Essensialisme percaya bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Dengan pengembalian pola pendidikan pada pengambilan nilai-nilai masa lalu, esensialisme percaya bahwa keefektifan pembelajaran akan tercipta. Esensialisme sangat menekankan pada pendidikan dimasa lalu dan cenderung tidak mendukung dengan pola pendidikan masa kini atau yang sering disebut sebagai modernisasi pendidikan. Bagi esensialisme pola-pola pendidikan masa lalu lebih memberikan banyak kemutakhiran pola berpikir yang ada dalam diri siswa. Modernisasi dianggap sebagai zaman yang hanya menambahkan banyak nilai-nilai baru yang kalah dengan nilai-nilai lama dalam hal menghasilkan siswa yang berkompeten, sehingga nilai-nilai lamalah yang mempunyai peranan penting jika dilihat dari kacamata esensialisme. Oleh karena itu dalam makalah ini penulis akan memaparkan mengenai aliran filsafat esensialisme. B. Rumusan Masalah Uraikan apa yang kamu ketahui tentang Aliran Essensialisme ! C. Tujuan Menguraikan apa yang kamu ketahui tentang Aliran Essensialisme ! BAB II PEMBAHASAN A. Latar Belakang Munculnya Aliran Esensialisme Esensialisme muncul pada zaman Renaisance dengan ciri-ciri utamanya berbeda dengan progresivisme. Progresif mempunyai pandangan bahwa banyak hal itu mempunyai sifat yang serba fleksibel dan nilai-nilai itu berubah dan berkembang. Esensialisme menganggap bahwa dasar pijak fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu. Pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang bersifat demikian ini dapat menjadikan pendidikan itu sendiri kehilangan arah. Berkaitan dengan hal itu pendidikan haruslah bersendikan atas nilai-nilai yang dapat mendatangkan kestabilan. Agar dapat terpenuhi maksud tersebut nilai-ailai itu perlu dipilih yang mempunyai tata yang jelas dan telah teruji oleh waktu. B. Ciri-ciri Utama Bagi aliran ini “Education as Cultural Conservation”, pendidikan sebagai pemelihara kebudayaan. Karena dalil ini maka aliran Essentialisme dianggap para ahli sebagai “Conservative road to culture”, yakni aliran ini ingin kembali kepada kebudayaan lama, warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikannya bagi kehidupan manusia. Esensialisme percaya bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Kebudayaan yang mereka wariskan kepada kita hingga sekarang, telah teruji oleh segala zaman, kondisi dan sejarah. Kebudayaan demikian, ialah essensia yang mampu pula mengemban hari kini dan masa depan umat manusia. Kebudayaan sumber itu tersimpul dalam ajaran para filosof ahli pengetahuan yang agung, yang ajaran dan nilai-nilai ilmu mereka bersifat kekal dan monumental. Kesalahan dari kebudayaan moderen sekarang Essensialisme ialah kecenderungannya, bahkan gejala-gejala penyimpangannya dari jalan lurus yang telah ditanamkan kebudayaan warisan itu. Fenomena-fenomena sosial-kultural yang tidak kita ingini sekarang, hanya dapat diatasi dengan kembali secara sadar melalui pendidikan, ialah kembali ke jalan yang telah ditetapkan itu. Hanya dengan demikian, kita boleh optimis dengan masa depan kita, masa depan kebudayaan umat manusia. Pemikir-pemikir besar yang telah dianggap sebagai peletak dasar asas-asas filsafat aliran ini, terutama yang hidup pada zaman klasik Plato, Aristoteles, dan Democritus. Plato sebagai bapak Objective-Idealisme adalah pula peletak teori-teori modern dalam Essentialisme. Sedangkan Aristotes dan Democritus, keduanya Bapak Objective-Realisme. Kedua ide filsafat itulah yang menjadi latar belakang thesis-thesis Essentialisme. Yang amat dominan dalam Essentialisme tidak hanya filsafat klasik tersebut. Malahan lebih-lebih ajaran-ajaran filosof pada zaman Renaissance, merupakan sokoguru aliran ini. Brameld menulis ciri utama Essentialisme itu sebagai berikut “Pandangan-pandangan filsafat yang kuno dan absolutisme pandangan abad-abad pertengahan tercermin dalam otoritasnya yang tidak dapat ditantang, otoritas gereja yang dogmatis, dimana pengikut Essentialisme modern bertujuan mengusahakan suatu sistematika, konsepsi tentang manusia dan alam semesta yang secepat mungkin cocok bagi kebutuhan zaman dan lembaga-lembaga modern.” Essensialisme merupakan paduan ide-ide filsafat Idealisme dan Realisme. Praktek filsafat pendidikan essensialisme dengan demikian menjadi lebih kaya dibandingkan jika ia hanya mengambil posisi sepihak dari salah satu aliran yang ia sintesiskan. C. Hakikat Aliran Esensialisme Esensialisme merupakan aliran yang ingin kembali kepada kebudayaan-kebudayaan lama yang warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikannya bagi kehidupan manusia. Esensialisme didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah kepada keduniawian, serba ilmiah dan materialistic. Selain itu juga didasari oleh pandangan-pandangan dari penganut aliran idealisme dan realisme. Esensialisme juga merupakan konsep yang meletakkan sebagian dari cirri alam piker modern. Sebagaimana halnya sebab musabab munculnya renaisans. Eensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatisme abad pertengahan. Maka disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta yang memenuhi tuntutan zaman modern. Realisme modern yang menjadi salah satu eksponen esensialisme, titik berat tinjauannya adalah mengenai alam atau dunia fisik. Sedangkan idealisme modern sebagai ekspon yang lain, pandangannya bersifat spiritual. John Deonal Butler mengutarakan secara singkat cirri dari masing-masing ini. Idelisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasan-gagasan atau ide. Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak tebatas yaitu Tuhan yang merupakan pencipta adanya kosmos. Manusia sebagai makhluk yang berpikirberada dalam lingkungan kekuasaan tuhan. Dengan menguji dan menyelidiki ide-ide serta gagasan-gagasannya, manusia akan dapat mencapai kebenaran yang sumbernya adalah Tuhan sendiri. Idealisme modern dengan tokoh-tokoh utamanya di jerman pada abad ke 17 dan 18, mengutarakan dan membahas pokok-pokok persoalan yang dekat dengan manusia, diantaranya terolahnya kesan-kesan indera oleh akal dan proses penjelmaannya nenjadi pengetahuan. Demikian pula oleh realisme, masalah-masalah tersebut juga menjadi objek peninjauan seperti terbukti dari gagasan-gagasan dari tokoh-tokohnya di inggris sebelum idealisme muncul. D. Tokoh-Tokoh Aliran Esensialisme. 1. Desiderius Eranus, belanda abad 15/16 Berusaha agar kurikulum sekolah bersifat humanis dan bersifat internasional, sehingga bisa mencakup lapisan menengah dan kaum aristokrat. 2. Johan Amos Comenius 1592-1670 Berpendapat bahwa pendidikan mempunyai peranan membentuk anak sesuai dengan kehendak Tuhan karena pada hakekatnya dunia adalah dinamis dan bertujuan. 3. John Locke. Inggris 1746-1827 Berpendapat bahwa pendidikan hendaknya sekala dekat dengan situasi dan kondisi. 4. Johann henrich pestalozzi 1827-1946 Percaya bahwa sifat alam itu tercermin pada manusia dan manusia juga mempunyai hubungan transendental langsung dengan Tuhannya 5. Johan Freidrich Frobel 1782-1852 Berkeyakinan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang merupakan bagian dari ala mini sehingga manusia tunduk dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum alam. 6. Leibniz Ia merumuskan bahwa semua kejadian dan fakta itu saling berhubungan dan merupakan system yang harmonis, dan system ini telah ada sebagai pembawaan dari alam semesta itu sendiri. Teori ini juga dijelaskan dengan adanya pengertian modern. 7. Immanuel kant Tokoh ini sampai kepada pengakuan bahwa ilmu itu mengandung kebenaran dan budi manusia dapat mencapai kebenaran tersebut. Menurutnya pengetahuan dapat dipaparkan dengan putusan, dan putusan adalah merupakan rangkaian pengertian subjek dan predikat. 8. Hegel Berpendapat bahwa ia mencari yang mutlak dari yang tidak mutlak. Dikatakan bahwa yang mutlak itu adalah roh jiwayang menjelma pada alam, maka sadarlah ia akan dirinya. Roh mempunyai inti yang disebut idea atau berfikir. 9. Arthur Schopenhaner Ia berkesimpulan bahwa hidup ini penuh dengan kemurungan, yaitu tiada kepuasan atas terwujudnya kemauan sepanjang hayatmanusia. Ia juga berpendapat bahwa voluntas kehendak adalah motor bagi manusia untuk mencapai tempat atau kedudukan penting. 10. Thomas hobbes Berpendapat bahwa pengetahuan yang benar adalah yang dapat dijangkau oleh indera. Jadi, pengetahuan tidak dapat mengatasi melampaui penginderaan. Persentuhan dunia luar dengan indera, jadi bersifat empiric, menjadi pangkal dan sumber pengetahuan. 11. Davis Hume Mengemukakan analisa mengenai pengetahuan dan substansi. Pengetahuan adalah sejumlah pengalaman yang timbul silih berganti. Masing-masing pengalaman itu mengadakan impresi tertentu bagi orang yang menghayati substansiitu sebenarnya tidak ada, karena sebenarnya adalah perulangan pengalaman yang tadi. 12. Francis Bacon Tokoh utama inggris yang lain ini adalah pemegang canang ilmupengetahuan modern. Dalam bukunya yang berjudul Novum Organum, bacon mengatakan bahwa ,enurut pandangan dan kesimpulannya pada masa lampau dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan ini manusia bau sedikit hubungannya dengan dunia luar. Padahal dunia luar ini adalah realita yang sesungguhnya. E. Pandangan-Pandangan Aliran Esensialisme 1. Pandangan mengenai realita Sifat yang menonjol dari ontology esensialisme adalah suatu konsesi bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela, yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Ini berarti bahwa bagaimanapun bentuk, sifat, kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata tersebut. Di bawah ini adalah uraian mengenai penjabarannya menurut realisme dan idealisme. realisme yang mendukung esensialisme disebut realisme objektif, karena mempunyai cara pandang yang sistematis mengenai alam serta tempat manusia di dalamnya. Idealisme objektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis dibandingkan dengan realisme objektif. Yang dimaksud dengan ini adalah bahwa pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan meliputi segala sesuatu., dengan landasn pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada hakekatnya adalah jiwa atau spirit, idelisme men etapkan suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini nyata. 2. Pandangan mengenai pengetahuan Pada kaca mata realisme, masalah pengetahuan ini, manusia adalah sasaran pandangan dengan penelaahan bahwa manusia perlu dipandang sebagai makhluk yang padanya berlaku hukum yang mekanistis evolusionistis. Sedangkan menurut idealisme, pandangan mengenai pengetahuan ini bersendikan pada pengertian bahwa manusia adalah makhluk yang adanya merupakan refleksi dari Tuhan dan yang timbul dari hubungan antara makrokosmos dan mikrokosmos. Bersendikan prinsip di atas dapatlah dimengerti bahwa relisme memperhatikan berbagai pandangan dari tiga aliran psikologi asosianisme, behaviorisme dan koneksionisme. Dengan memperhatikan tiga aliran ini, yang pada dasarnya mencerminkan adanya penerapan metode-metode yang lazim untuk ilmu pengetahuanalam kodrat, realisme menunjukkan sikap lebih maju mengenai masalah pengatahuan ini dibanding dengan idealisme. 3. Pandangan mengenai nilai Menurut realisme kwalitas nilai tidak dapat ditentukan secara konseptual terlebih dahulu, melainkan tergantung dari apa atau bagaimana keadaannya bila dihayati oleh subjek tertentu dan selanjutnya akan tergantung pula dari sikap subjek tersebut. Teori lain yang timbul dari realisme disebut determinisme etis. Dikatakan bahwa semua yang ada dalam ala mini termasuk manusia mempunyai hubungan hingga merupakan rantai sebab-akibat. Realisme berdasarkan atas keturunan dan lingkungan. Nilai keindahan adalah suatu kenikmatan yang dihasilkan dalam pengalaman bila kognisi dan perasaan bercampur atau saling berpengaruh. Yang dimaksud dengan kognisi disini adalah persoalan persepsi sebagaimana dihubungkan dengan kenikmatan keindahan. Kenukmatan seseorang mengenai keindahan itu merupakan perpaduan antara pengalaman, persepsi, dan perasaan. 4. Pandangam mengenai pendidikan Pandangan mengenai pendidikan yang diutarakan disini bersifat umur, simplikataf dan selektif, dengan maksud agar semata-mata dapat memberikan gambaran mengenai bagian-bagian utama dari esensialisme. Esensialisme timbul karena adanya tantangan mengenai perlunya usaha emansipasi diri sendiri sebagaimana dijalankan oleh para filsuf pada umumnya ditinjau dari sudut abad pertengahan. 5. Pandangan mengenai belajar Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami dirinya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Pandangan Immanuel Kant, bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera memerlukan unsur apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. Bila orang berhadapan dengan benda-benda, tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk, ruang dan ikatan waktu. Bentuk, ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Jadi, apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda, tetapi benda-benda itu yang terarah kepada budi. Budi membentuk, mengatur dalam ruang dan waktu. Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. Finney menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang pasif, yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang diatur oleh alam. Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah sosial. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilai-nilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan di teruskan kepada angkatan berikutnya. Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas 1 Determiuisme mutlak, menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada, yang bersama-sama membentuk dunia ini. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis. 2 Determinisme terbatas, memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka, namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan. 6. Pandangan mengenai kurikulum Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Herman Harrel Horne dalam bukunya mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan. Bogoslousky, mengutarakan di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain, kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian 1 Universum Pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala manifestasi hidup manusia. Di antaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam, asal usul tata surya dan lain-Iainnya. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas. 2 Sivilisasi Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan tcrhadap lingkungannya, mengejar kebutuhan, dan hidup aman dan sejahtera . 3 Kebudayaan Kebudayaan mempakan karya manusia yang mencakup di antaranya filsafat, kesenian, kesusasteraan, agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan. 4 Kepribadian Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik, fisiologi, emosional dan ientelektual sebagai keseluruhan, dapat berkembang harmonis dan organis, sesuai dengan kemanusiaan ideal. F. Kelebihan dan Kelemahan Aliran Esensialisme 1. Kelebihan a. esensialisme membantu untuk mengembalikan subject matter ke dalam proses pendidikan, namun tidak mendukung perenialisme bahwa subject matter yang benar adalah realitas abadi yang disajikan dalam buku-buku besar dari peradaban barat. Great Book tersebut dapat digunakan namun bukan untuk mereka sendiri melainkan untuk dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang ada pada dewasa ini. b. esensialis berpendapat bahwa perubahan merupaka suatu kenyataan yang tidak dapat diubah dalam kehidupan sosial. Mereka mengakui evolusi manusia dalam sejarah, namun evolusi itu harus terjadi sebagai hasil desakan masyarakat secara terus-menerus. Perubahan terjadi sebagai kemampuan imtelegensi manusia yang mampu mengenal kebutuhan untuk mengadakan amandemen cara-cara bertindak,organisasi,dan fungsisosial. 2. Kelemahan a. menurut esensialis, sekolah tidak boleh mempengaruhi atau menetapkan kebijakan-kebijakan sosial. Hal ini mengakibatkan adanya orientasi yang terikat tradisi pada pendidikan sekolah yang akan mengindoktrinasi siswa dan mengenyampingkan kemungkinan perubahan. b. Para pemikir esensialis pada umumnya tidak memiliki kesatuan garis karena mereka berpedoman pada filsafat yang berbeda. Beberapa pemikir esensialis bahkan memandang seni dan ilmu sastra sebagai embel-embel dan merasa bahwa pelajaran IPA dan teknik serta kejuruan yang sukar adalah hal-hal yang benar-benar penting yang diperlukan siswa agar dapat memberi kontribusi pada masyarakat. c. Peran guru sangat dominan sebagai seorang yang menguasai lapangan, dan merupakan model yang sangat baik untuk digugu dan ditiru. Guru merupakan orang yang menguasai pengetahuan dan kelas dibawah pengaruh dan pengawasan guru. Jadi, inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru, bukan pada siswa. BAB III KESIMPULAN. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. Esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman Realisme modern, yang menjadi salah satu eksponen essensialisme, titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik, sedangkan idealisme modern sebagai eksponen yang lain, pandangan-pandangannya bersifat spiritual Dengan demikian disini jiwa dapat diumpamakan sebagai cermin yang menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik, maka anggapan mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan yang menyebelah, berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata-mata, melainkan pertemuan keduanya. Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasan-gagasan ide-ide. Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan, yang merupakan pencipta adanya kosmos. Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan. Menurut pandangan ini bahwa idealisme modern merupakan suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir, dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit, serta segala isinya. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah SWT DAFTAR PUSTAKA Barnadip, imam, filsafat pendidikan, yogyakarta andi offset, 1987 Khobir, Abdul, filsafat pendidikan islam, pekalongan STAIN PRESS, 2007. Esensialisme dapat digambarkan sebagai filsafat pendidikan yang berakar pada pengajaran mata pelajaran pendidikan dasar yang bertujuan menciptakan masyarakat Amerika yang memberi kontribusi kepada masyarakat terhadap budaya demokratis Link 2008. Esensialisme konsep pendidikan universal; keyakinan bahwa ada pengetahuan penting bahwa setiap orang dalam budaya tertentu harus memiliki anggota budaya yang berpengetahuan luas dan sepenuhnya berpartisipasi. Merupakan tanggung jawab sekolah untuk memberikan pengetahuan itu. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 1 Terjemahan Esensialisme, Pendidikan Dasar, Dan Standar-Standarnya G. L. Gutek Hengki Wijaya Helaluddin DEFINISI ESENSIALISME Berapa kali Anda sering mendengar frasa “Let’s get back to the basic” Mari kembali ke dasar? Kembali ke dasar artinya melucuti hal yang tidak penting, gangguan, hal-hal sepele, dan penyimpangan dan mengidentifikasi apa yang mendasar untuk diskusi, argumen, dan posisi. Seringkali diskusi yang tidak fokus perlu dilakukan untuk menjaga “kembali kepada subjek” sehingga peserta tidak kehilangan arah diskusi dalam isu yang tidak relevan untuk didiskusikan. Sebagai teori pendidikan, esensialisme menegaskan bahwa sekolah, instruksi, pengajaran dan pembelajaran perlu fokus pada dasar tentang apa yang benar-benar diperlukan untuk menjadi seorang terdidik, produktif, efektif, individu yang cakap, dan warga negara dalam masyarakat Amerika. Berdasarkan definisi esensialisme, kita memulai dari akarnya, esensi yang merujuk kepada apa yang perlu untuk dan yang sangat perlu tentang sesuatu–suatu objek, suatu disiplin, atau suatu subjek, untuk contoh. Esensi berhubungan dengan karakter atau sifat intrinsik atau mendasar dari sesuatu, dibandingkan ciri-ciri kebetulan atau yang insidental saja. Apa yang Anda harus memahami tentang sesuatu? Apa yang paling mendasar, fundamental, dan perlu? Apa yang tidak perlu atau insidental? Esensialisme dapat digambarkan sebagai filsafat pendidikan yang berakar pada pengajaran mata pelajaran pendidikan dasar yang bertujuan menciptakan masyarakat Amerika yang memberi kontribusi kepada masyarakat terhadap budaya demokratis Link 2008. Esensialisme konsep pendidikan universal; keyakinan bahwa ada pengetahuan penting bahwa setiap orang dalam budaya tertentu harus memiliki anggota budaya yang berpengetahuan luas dan sepenuhnya berpartisipasi. Merupakan tanggung jawab sekolah untuk memberikan pengetahuan itu. Sebagai suatu teori, Esensialisme menegaskan ide dasar tertentu, keterampilan, tubuh pengetahuan adalah kebudayaan dan peradaban manusia. Karena esensialisme diyakini sebagai dasar yang sangat diperlukan, perlu untuk, dan fundamental dalam pendidikan, maka posisi ini seringkali disebut sebagai Pendidikan Dasar. Keterampilan dasar, dan tubuh pengetahuan tertentu dapat diformulasikan dan disusun menjadi subjek yang dapat dan harus diajarkan oleh orang dewasa kepada remaja anak muda. Fundamental atau esensi adalah 2 kemampuan literasi membaca dan menulis, dan berhitung aritmatika, dan subjek sejarah, matematika, ilmu pengetahuan, bahasa, dan literatur. Instruksi yang mewariskan keterampilan dasar dan pengetahuan dari satu generasi yang menjadi jaminan kelangsungan hidup peradaban berikutnya. Untuk melepaskan diri dari transmisi budaya yang diperlukan dan penting ini menempatkan peradaban dalam bahaya. Kaum esensialis lebih lanjut mendesak supaya pewarisan keterampilan dasar ini berjalan lebih efisien dan efektif melalui metode yang telah teruji waktu. Karena masih banyak yang harus dipelajari dan waktu yang terbatas untuk mempelajarinya, instruksi harus direncanakan, disengaja, dan efisien. Penting untuk belajar dari masa lalu daripada mencoba terus menciptakan kembali. Sekolah, kemudian merupakan lembaga akademik yang didirikan oleh masyarakat untuk mewariskan keterampilan dan pengetahuan dasar kepada anak-anaknya dan kaum muda. Essensialisme menghendaki agar landasan pendidikan berakar dari nilai-nilai yang esensial, yaitu yang telah teruji oleh waktu, bersifat menuntun dan telah turun-temurun dari zaman ke zaman, dengan mengambil zaman renaisanse sebagai permulaan. Pandangan essensialisme dalam pendidikan Islam dianggap sesuai karena tujuan umum paham essensialisme adalah membentuk pribadi bahagia dunia dan akhirat. Isi pendidikanya ditetapkan berdasarkan kepentingan efektifitas pembinaan kepribadian yang mencakup ilmu pengetahuan yang harus dikuasai dalam kehidupan dan mampu menggerakan keinginan manusia Saidah, 2015. POSISI ESENSIALISME Esensialisme telah menunjukkan kekuatan terbesar dalam pendidikan. Meskipun banyak tantangan dari berbagai pembaruan seperti pragmatis, postmodern, liberal, Progresif, dan teori kritis. Esensialisme dalam bentuknya telah ada dan digunakan secara luas pengaruhnya terhadap sekolah beberapa tahun lamanya. Pada abad ke-19, esensialisme mengambil bentuk “Tiga R’s” membaca, menulis, berhitung, dan disiplin mental teori ini tentang latihan subjek tertentu atau disiplin pikiran. Pada tahun 1930-an sekelompok pendidikan yang menentang pendidikan progresif, menciptakan istilah Esensialisme. Pada tahun 1950-an, Essensialisme disuarakan oleh teoritis pendidikan seperti Arthur E. Bestor, Jr yang terpanggil untuk kembali pada pengajaran fundamental disiplin intelektual. Siapa Arthur Bestor, kenapa dia jadi terkenal di bidang pendidikan Amerika, dan apa yang dia coba lakukan dengan karirnya? Bestor lahir pada tanggal 20 September 1908 di Chautauqua, New York. Ayahnya, Arthur Bestor Sr., adalah pemimpin terkemuka dalam gerakan pendidikan orang dewasa Chautauqua di dekat Danau Chautauqua di negara bagian New York. Bestor Sr. tidak mengikuti ayahnya ke dalam pelayanan, tapi dia mengabdikan hidupnya untuk tugas moral mendidik orang dewasa di Chautauqua. Chautauqua memulai sebagai kamp musim panas Kristen namun dengan cepat berkembang menjadi sesuatu yang cukup besar. Franklin Delano Roosevelt menyampaikan pidato di Chautauqua pada tahun 3 1936. Bestor Sr menjabat sebagai presiden Chautauqua dari tahun 1915 sampai kematiannya pada tahun 1944 Null, 2008; Garraty dan Carnes 1999. Pada tahun 1970-an dan 1980-an, ada kebangunan lain dari pendidikan dasar selama U. S. Commission on Excellence in Education’s A Nation at Risk menyatakan tentang tema pendidikan dasar. Tahun 2000, gerakan standar mulai membuat dampak melalui negara-negara bersatu karena negara-negara memberlakukan undang-undang yang memerlukan pengujian standar dalam subjek dasar. Pada tahun 2001, UU Pendidikan “No Child Left Behind” mengamanatkan pengujian standar dalam membaca sebagai persyaratan untuk bantuan federal ke distrik sekolah setempat. Untuk menggambarkan kegigihan esensialisme, kami secara singkat memeriksa panggilan yang berlaku untuk kembali ke pendidikan dasar. Esensialisme Dengan tidak diartikulasikan sebagai filsafat pendidikan, esensialisme telah ada sejak lama sebagai ungkapan informal tentang sekolah mana yang seharusnya, dengan menekankan bahwa kurikulum harus terdiri dari keterampilan dan subjek tradisional. Struktur tradisional ini ditantang oleh pendidik Pragmatis seperti John Dewey dan pendidik progresif. Kaum esensialis, yang ditantang oleh progresivisme, secara formal mengartikulasikan posisi mereka. Siapa William Bagley, dan apa yang dia coba lakukan dengan karirnya? Pertama, William Bagley adalah sosok yang berbeda dari Arthur Bestor. Generasi penuh yang lebih tua dari Bestor, Bagley memulai tahun pertamanya sebagai profesor pendidikan di University of Illinois pada tahun 1908, tahun Bestor lahir. Tidak seperti Bestor, Bagley tidak dilahirkan dalam keluarga elit timur laut. Dia tidak miskin, tapi dia tumbuh di lingkungan yang agak sederhana. Class merupakan faktor utama yang memisahkan Bagley dari Bestor. Bagley lahir di Detroit, Michigan, pada tanggal 15 Maret 1874 sampai William Chase dan Ruth Walker Bagley. Ayah Bagley adalah seorang inspektur rumah sakit di Detroit. Sementara Bagley berada di sekolah dasar, keluarga tersebut tinggal beberapa tahun di Worcester, Massachusetts, dan kemudian kembali ke Detroit di mana dia bersekolah di SMA 1888-1891. Setelah lulus, Bagley memilih untuk mendaftarkan diri di Michigan Agricultural College MAC untuk mempersiapkan dirinya menjadi petani. Dia menghadiri MAC dari tahun 1891-1895, saat dia lulus dengan gelar sarjana Null, 2008. Dipimpin oleh William Chandler Bagley 1874-1946, seorang profesor pendidikan pada Universitas Columbia sekolah guru, pendidik esensialisme memproklamasikan platform mereka pada tahun 1938. Platform para esensialis menetapkan alasan yang akan diikuti oleh para pendukung esensialisme dan pendidikan dasar di tahun-tahun berikutnya. Posisi mereka meliputi 1 menyatakan tujuan pendidikan dengan mendefinisikan peran sekolah dalam persyaratan akademis dan harapan; 2 mengidentifikasi kekurangan yang diduga konsekuensi gagal mengikuti orientasi pendidikan dasar; 3 meminta pemulihan untuk mengembalikan peran dan fungsi sekolah mereka. Tujuan kaum esensialisme untuk pendidikan adalah untuk meneruskan dan mempertahankan unsur penting dalam budaya manusia. Sekolah sebagai institusi 4 mempunyai definisi dan kekhasan tentang tugas pewarisan esensi keterampilan dan subjek kepada yang muda yang mana budaya itu secara berlanjut akan dipelihara dan dipertahankan. Tujuan pendidikan adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan yang terhimpun dan telah bertahan sepanjang waktu. Dengan demikian berharga untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh keterampilan. Keterampilan-keterampilan, sikap-sikap, dan nilai-nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur yang inti esensial dari sebuah pendidikan. Pendidikan bertujuan untuk mencapai standar akademik yang tinggi, pengembangan intelek atau kecerdasan Saidah, 2015. Kaum esensialisme mengusulkan solusi untuk permasalahan pendidikan di Amerika dengan cara 1. Kepatuhan sekolah dalam tugas; mengajarkan keterampilan penting dan mata pelajaran dan menghindari pengalihan oleh hal tak terduga. 2. Keterampilan mengajar dan subjek secara sistematis dan berurutan secara tertib dan kumulatif. 3. Bersikeras pada standar prestasi akademis yang tinggi untuk promosi dan kelulusan. 4. Menekankan pembelajaran yang membutuhkan disiplin, usaha, dan kerja keras. Fundamental Disiplin Intelektual Argumen kuat berikutnya untuk esensialisme dibuat oleh Arthur Bestor, Jr, seorang sejarawan Amerika yang berpendapat bahwa sekolah, terutama institusi menengah, harus mengajarkan “disiplin intelektual” mendasar yang menumbuhkan “kecerdasan disiplin”. Sementara para ahli esensial terdahulu seperti Bagley telah bereaksi terhadap Progresivisme, Bestor bereaksi terhadap “life-adjusment education” yang menekankan minat siswa, sosial, kewarganegaraan, dan ekonomi, serta pelajaran akademis. “Pendidikan Life-adjustment” menciptakan kurikulum baru yang berfokus pada keterampilan dan pengalaman dasar ini; mereka merevisi, dan sering tidak menekankan subjek akademis untuk menyoroti kebutuhan dan isu sehari-hari siswa daripada disiplin intelektual. Misalnya, keterampilan untuk mempertahankan dan menerbitkan isu-isu daripada disiplin intelektual. Misalnya, keterampilan untuk mempertahankan hubungan interpersonal yang efektif, mengelola uang, dan menggunakan waktu senggang untuk memenuhi kegiatan rekreasi di mana dimasukkan ke dalam kurikulum. Bestor menuduh “pendidik life-adjusment” yang menyuarakan tentang teori pendidikan anti-intelektual di sekolah tersebut, dengan melemahkan basis kurikulum dengan mengenalkan hal-hal sepele, dan dengan menurunkan standar akademis. Neo-Esensialisme dan A Nation at Risk Neo esensialisme mengembangkan daftar kelemahan di sekolah umum Amerika dan menyatakan hal berikut. 5 • Permisif, terbuka, dan progresif telah mengabaikan pengajaran sistematis tentang keterampilan dasar membaca, menulis, dan menghitung dan telah menyebabkan penurunan standar keaksaraan. • Program inovatif dan eksperimental seperti matematika ”baru”, studi sosial, dan sains telah mengorbankan materi pelajaran berdasarkan proses pembelajaran yang tidak jelas seperti “metode penemuan,” pemikiran kritis, “pembelajaran bahasa dan konstruktivisme keseluruhan.” • Karakter dan nilai pendidikan telah merosot menjadi program permisif moral “klarifikasi nilai” yang merongrong nilai-nilai fundamental dari rajin, tanggung jawab dan patriotisme. • Program multikultural radikal menciptakan isolasi etnis dan ras dan mengikis nilai inti Amerika yang umum • Kebijakan promosi sosial di sekolah negeri telah mengikis standar akademik dan menghasilkan penurunan skor yang menonjol pada uji standar sucah sebagai SAT and ACT. Neo-esensialisme yang didukung oleh Neo-Conservation yang telah direvisi, mendapat dukungan besar dengan pemilihan Presiden Ronald Reagen pada tahun 1980. Sekretaris Pendidikan Terrel Bell di pemerintahan Reagen menunjuk Komisi Pendidikan yang Baik. Dalam A Nation at Risk sebuah laporan yang dipublikasikan dengan sangat baik, Komisi tersebut mengklaim bahwa Amerika Serikat menghadapi krisis pendidikan yang disebabkan oleh Kurikulum sekunder yang telah “diseragamkan, dilemahkan, dan dijinakkan sampai-sampai mereka tidak lagi memiliki tujuan utama.” Dengan menggunakan retorika perang dramatis, Komisi memperingatkan Amerika bahwa “landasan pendidikan masyarakat kita saat ini terkikis oleh gelombang kemasyarakatan yang sedang berlangsung yang mengancam masa depan kita sebagai bangsa dan rakyat.” Komisi merekomendasikan agar semua siswa SMA diminta untuk melengkapi kurikulum “Lima Dasar Baru” yang terdiri dari 1. Empat tahun bahasa Inggris; 2. Tiga tahun matematika; 3. Tiga tahun ilmu; 4. Tiga tahun studi sosial; 5. Satu setengah tahun ilmu komputer. A Nation at Risk diliput secara luas di media memperoleh khalayak nasional. Presiden Reagen dan Sekretaris Bell mendesak gubernur masing-masing negara untuk mengambil peran kepemimpinan untuk menghasilkan kurikulum yang lebih akademis, standar pencapaian akademis dan disiplin kelas yang lebih baik. Negara bagian memerhatikan panggilan tersebut dan gerakan standar tersebut lahir. Tema penting dari gerakan standar adalah bahwa pendidikan Amerika akan meningkat dengan menciptakan standar akademis yang tinggi, atau benchmark, untuk mengukur prestasi siswa. Misalnya, tujuan empiris, terukur, yang telah ditentukan harus ditetapkan 6 yang akan mengindikasikan apakah seorang siswa membaca di tingkat kelas atau telah memperoleh tingkat pencapaian matematika dan sains tertentu. Siswa dapat diperiksa oleh tes standar untuk menentukan apakah mereka mencapai standar yang ditetapkan dalam subjek atau jika mereka berada di bawah atau di atasnya. Dampak reformasi pendidikan sejak tahun 1990-an dapat digambarkan sebagai jalan yang masih dalam tahap pembangunan didukung oleh bukti dari sumber nasional dan internasional. Secara nasional, penurunan prestasi membaca dan matematika telah terdokumentasi dengan baik Pierce and Hernandez, 2014. Sebagai contoh, Laporan Penilaian Kemajuan Pendidikan Nasional NAEP sebagian besar mengonfirmasi tren pencapaian akademik ini. Untuk membaca, persentase siswa yang berprestasi pada atau di atas tingkat dasar menurun dari 80% di tahun 1992 menjadi 73% di tahun 2004, dan persentase siswa yang berprestasi pada atau di atas tingkat mahir menurun dari 40% menjadi 35% Pierce and Hernandez 2014;Grigg, Donahue, & Dion, 2007. Dalam matematika, rata-rata skor untuk siswa kelas 12 tidak berubah dari tahun 2004 sampai 2008, atau skor rata-rata berbeda dari tahun 1973 Pierce and Hernandez 2014;Rampey & Donahue, 2009. Dengan menggunakan statistik berdasarkan kinerja siswa di sekolah tertentu, sekolah tersebut dapat dinilai berkinerja di atas standar yang ditetapkan. Advokat untuk menetapkan standars dan mengukurnya dengan menggunakan tes standar berpendapat bahwa kinerja siswa di sekolah tertentu dapat digunakan untuk menentukan kompetensi guru dan administrator di sekolah tersebut. Dalam sebuah kritikus kontra argumen berpendapat bahwa menggunakan tes standar mendorong guru untuk “mengajar untuk ujian” daripada memberikan pendidikan umum dan menyeluruh kepada siswa. Mereka berpendapat bahwa variabel sosial, ekonomi dan variabel lainnya memiliki dampak yang kuat terhadap prestasi belajar siswa yang tidak dapat diukur dengan tes standar. Meskipun argumen ini bergema di seluruh komunitas pendidikan, gerakan standar telah mendapatkan pijakan kuat di berbagai negara. Pengesahan standar yang ditetapkan dengan diundangkannya Undang-Undang Pendidikan federal tahun 2001, No Child Left Behind. No Child Left Behind No Child Left Behind Act, didasarkan pada premis yang berjalan melalui gerakan standar bahwa prestasi akademik dapat diukur dengan tes standar. Sekolah di mana sejumlah besar siswa gagal tampil sesuai standar pencapaian standar dapat diidentifikasi dan diberi remediasi yang dirancang untuk meningkatkan kinerja. Jika identifikasi komparatif atas kinerja sekolah ini tidak selesai, anak-anak di sekolah berprestasi rendah dapat ditinggalkan secara akademis. Dasar pemikiran untuk tindakan tersebut mengikuti argumen esensialis biasa untuk mengidentifikasi kelemahan dan kemudian menentukan prosedur korektif. Kekurangan yang dicatat meliputi 7 Today, nearly 70 percent of the inner city fourth graders are unable to read at a basic level on natural reading tests. Our high school senior trail students in Cyprus and South Africa in international math test. And nearly a third of our college freshmen find they must take a remedial course before they are able to even begin reguler college level college No Child Left Behind, 20011. Saat ini, hampir 70 persen siswa kelas empat bagian dalam kota tidak dapat membaca pada tingkat dasar dalam tes membaca alami. Siswa SMA kami yang senior di Siprus dan Afrika Selatan dalam tes matematika internasional. Dan hampir sepertiga mahasiswa baru di perguruan tinggi mendapati mereka harus mengikuti kursus remedial sebelum mereka bisa mulai kuliah di perguruan tinggi reguler No Child Left Behind, 20011. Meskipun undang-undang tersebut adalah undang-undang komprehensif yang berhubungan dengan banyak bidang pendidikan, beberapa fitur utama, yang mencerminkan pergerakan standar, memperkuat pendekatan pendidikan dasar esensialistik. Tindakan mengidentifikasi dasar-dasar kunci adalah membaca dan matematika dan mengharuskan tes standar digunakan untuk menentukan pencapaian siswa dalam mata pelajaran penting. Tindakan tersebut mengamanatkan agar agar distrik sekolah memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan federal, mereka harus menetapkan penilaian tahunan dalam membaca dan matematika untuk setiap siswa di kelas tiga sampai delapan. Ini membuat distrik sekolah bertanggung jawab untuk memperbaiki kinerja semua siswa, tidak hanya tindakan yang dilakukan dengan buruk pada tes. Sekolah dan distrik yang ingin membuat kemajuan tahunan yang memadai harus diidentifikasi dan diperbaiki. Jika sekolah gagal memenuhi standar selama tiga tahun, siswa mereka kemudian dapat pindah ke sekolah umum atau sekolah swasta No Child Left Behind, 20018-9. HUBUNGAN FILOSOFIS DAN IDEOLOGIS ESENSIALISME Pandangan filsafat pendidikan esensialisme dapat ditelusuri dari aliran filsafat yang menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama, karena kebudayaan lama telah banyak melakukan kebaikan untuk manusia. Kebudayaan lama dimaksud telah ada semenjak peradaban umat manusia terdahulu, terutama semenjak zaman Renaissance mulai tumbuh dan berkembang dengan megahnya. Kebudayaan lama melakukan usaha untuk menghidupkan kembali ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kesenian zaman Yunani dan Romawi kuno Saidah, 2015. Esensialisme merupakan gerakan pendidikan yang bertumpu pada mazhab filsafat idealisme dan realisme. Pada aliran idealisme pendidikan diarahkan pada upaya pengembangan kepribadian anak didik sesuai dengan kebenaran yang berasal dari atas yaitu dari dunia supranatural, yaitu Tuhan. Sedangkan aliran filsafat realisme berpendapat bahwa upaya pendidikan harus diarahkan pada upaya menguasai pengetahuan yang sudah mantap 8 sebagai hasil penelitian ilmiah yang dituangkan secara sistimatis dalam berbagai disiplin atau mata pelajaran Saidah, 2015; Nata, 2005. Esensialisme terutama versi pendidikan dan standar saat ini, telah semakin selaras dengan ideologi neo-Konservatif. Neo-Konservatif dan Neo-esensialis setuju bahwa sekolah harus 1. Jadilah institusi akademik yang memiliki kurikulum keterampilan dan subjek dasar yang terdefinisi dengan baik 2. Menanamkan nilai-nilai tradisional patriotisme, kerja keras, usaha, ketepatan waktu, penghormatan terhadap otoritas, dan kesopanan. 3. Tekankan inti berdasarkan peradaban Barat dan nilai-nilai tradisional Amerika. 4. Beroperasi secara efisien dan efektif serta disiplin dan ketertiban. 5. Mempromosikan siswa berdasarkan prestasi akademik. Esentialis bertemu dengan oposisi kuat dari filosofi seperti Pragmatisme, Eksistensialisme, dan Postmodernisme, dari ideologi seperti Marxisme, dan dari teori sebagai Progressivism and Critical Theory. Liberal, tergantung pada pandangan mereka, cenderung agak kritis terhadap neo-esensialisme, terutama bila dikaitkan dengan fundamentalisme agama. Pragmatis menentang asumsi esensialis bahwa kurikulum dapat didefinisikan secara apriori terhadap kebutuhan dan pengalaman siswa dan dipisahkan oleh isu sosial kontemporer. Postmodernis melihat klaim esensial tentang peradaban yang membelah melalui sebuah kurikulum yang dibutuhkan untuk benar-benar menjadi dasar pemikiran historis yang pernah memastikan pendidikan kelompok dan kelas ekonomi sosial. Eksistensialis menentang esensialisme untuk memaksakan identitas lain yang didefinisikan, agaknya dibangun sendiri, pada siswa. Liberal yang modern menentang kurikulum esensialis sebagai terlalu kaku dan kurang relevansi dengan masalah kontemporer dan masalah. Kaum Marxis menganggap esensialisme sebagai pembela status quo kapitalis yang ada. Kaum progresif menganggap esensialisme terlalu formal, terlalu kaku, dan tidak terbuka terhadap keragaman pengalaman manusia. Teori kritis, mirip dengan Marxis dan Eksistensialis, menemukan mandat esensialis untuk keterampilan dasar dan mata pelajaran untuk benar-benar menjadi kedok untuk mereproduksi status quo sosial ekonomi dan menempatkan siswa ke dalam situasi berbasis kelas yang telah ditentukan. Kelompok Realisme, Perenialisme dan Esensialisme berfokus pada keteguhan pengetahuan. Guru adalah orang yang akan mentransfer pengetahuan ini kepada siswa. Dalam hal ini, siswa bertanggung jawab untuk belajar dari guru mereka. Peran guru atau spesialis pendidikan adalah memutuskan apa yang harus mereka ajarkan, dan bagaimana mereka akan menciptakan lingkungan pendidikan untuk mentransfer pengetahuan yang benar kepada siswa secara akurat dan permanen. Lingkungan seperti itu mengenalkan alat dan peralatan yang dibutuhkan dengan sendirinya. Misalnya, pensil, buku catatan dan buku merupakan alat dan peralatan penting untuk gerakan ini. Secara konkrit, ujian dan tes standar yang dilakukan dalam ujian ini menjadi bahan yang dapat diandalkan yang mengukur sejauh 9 mana siswa belajar. Gerakan-gerakan yang masih digunakan ini bisa disebut gerakan tradisional atau klasik Kumral, 2014. MENGAPA BELAJAR ESENSIALISME? Esensialisme patut dipelajari karena kemunculannya yang terus-menerus dan sering. Selama berbagai penampilan ini, dan di bawah judul seperti “3 R’s,”platform esensialis, disiplin intelektual, pendidikan dasar, dan gerakan standars, kaum Essensialis sangat konsisten dalam mendefinisikan sekolah sebagai institusi akademis utama. Mereka sama-sama konsisten dalam mendefinisikan kurikulum sebagai keterampilan dasar dan mata pelajaran. Penting untuk berfokus pada fitur inti dari teori pendidikan berulang ini dan untuk mengenali bahwa kaum esensialis, dalam keterhubungan dan komitmen pendidikan mereka, melihat pendekatan ini terhadap pendidikan sebagai jalan paling pasti menuju kelangsungan hidup dan kesopanan manusia. Meskipun masalah sosial, ekonomi, dan politik dapat berubah, respons terbaik bagi sekolah, mengatakan esensialis menegaskan kembali dan bergantung pada percobaan, kebenaran, dan pengujian kurikulum keterampilan dasar dan mata pelajaran. Esensialisme mendapat perlawanan sengit dari aliran filsafat seperti aliran pragmatime, eksistensialisme, dan postmodernisme, dari aliran ideologi seperti Marxisme, dan berbagai teori seperti progresivisme dan teori kritis. Kaum liberal, sangat tergantung pada sudut pandang mereka, mereka cenderung agak kritis terhadap aliran neo-esensialisme, terutama ketika terkait fundamentalisme agama/religius. Ahli pragmatisme berlawanan pendapat dengan ahli esensialisme tentang asumsi yang menyatakan bahwa kurikulum dapat ditetapkan berdasarkan kebutuhan siswa dan pengalamannya dan dipisahkan oleh isu sosial kontemporer. Ahli postmodernisme memandang klaim para esensialis mengabaikan peradaban melalui kebutuhan kurikulum untuk kelas dan grup sosial-ekonomi yang disukai. Para eksistensialis menentang esensialisme untuk memaksakan sesuatu yang telah ditentukan, daripada mengonstruksi sendiri, identifikasi pada siswa. Kaum liberal modern menentang kurikulum esensialisme yang terlalu kaku dan kurang relevan pada problem dan isu kontemporer. Ahli marxisme menemukan esensialisme menjadi terlalu bertahan pada eksistensi status quo kapitalisme. Progrevisme menemukan esensialisme terlalu formal, terlalu prosedural, dan tidak terbuka pada perbedaan pengalaman manusia. Para penganut teori kritik, hampir sama dengan marxisme dan eksistensialis, menemukan para esensialis memandatkan kemampuan dasar dan subjek menjadi samar dalam reproduksi satus quo pada sosial-ekonomi dan mengunci siswa pada situasi kelas yang telah ditentukan sebelumnya. MENGAPA MEMPELAJARI ESENSIALISME? Esensialisme merupakan pelajaran yang bernilai karena kegigihan dan frekuensi kemunculannya. Para ahli esensialisme sangat konsisten dalam mendefinisikan sekolah 10 sebagai institusi akademik. Mereka konsisten dalam mendefinisikan kurikulum sebagai keterampilan dasar dan sebagai mata pelajaran. ESENIALISME SEBAGAI TEORI PENDIDIKAN Sebagai indikasi awal, esensialisme sebagai teori pendidikan cenderung fokus pada hal-hal yang spesifik. Artinya, sekolah sebagai agen sosiokultural yang memiliki peran utama dalam pendidikan akademik dan formal bagi siswa dalam menentukan kemampuan yang penting dan mata pelajaran. Sekolah sebagai sebuah agen transmisi budaya yang melewati kemampuan esensial dan mata pelajaran sebagai warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya mengabadikan peradaban. Dengan kata lain, esensialisme memiliki pandangan bahwa Pendidikan sebagai upaya dalam memelihara kebudayaan. Paham ini menginginkan manusia untuk kembali ke kebudayaan lama yang telah sukses dalam catatan sejarah membuktikan kebaikan-kebaikan bagi kehidupan manusia. Para esensialis memandang kebudayaan modern saat ini mengandung gejala-gejala penyimpangan dari kebudayaan masa lalu Thaib, 2015. Esensialisme menolak orientasi liberal dan progresif yang menyatakan bahwa sekolah sebagai institusi multifungsi yang menunjukkan variasi sosial, politik, ekonomi, dan peran terapeutik secara psikologis. Bagi para pakar esensialisme, banyak sekolah dan guru mengalihkan ke non-akademik, waktu yang sedikit, uang, dan sumber daya yang akan diperoleh mereka untuk menunjukkan fungsi akademik utama. Kurikulum Materi Pelajaran Para ahli esensialisme secara tegas mendukung kurikulum materi pelajaran yang dibedakan dan diatur sesuai dengan prinsip logis atau prinsip kronologis internal mereka. Mereka meragukan istilah inovatif atau pendekatan proses dalam pembelajaran, seperti konstruktivisme, yang mana siswa mengonstruksi dan membuat pengetahuan mereka sendiri secara kolaboratif. Para ahli esensialisme berpendapat bahwa orang-orang berbudaya atau beradab akan belajar secara efektif dan efisien dengan menggunakan pengetahuan yang telah dikembangkan dan disusun oleh para ahli dan pakar lainnya. Dalam esensialisme, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk menemukan pengetahuan yang sudah diketahuinya. Kurikulum yang mengabaikan masa lampau, menolak mata pelajaran yang dibatasi, dan membanggakan dirinya menjadi interdisipliner atau transdisipliner, pada kenyataanya menyebabkan kebingungan dalam pendidikan. Senada dengan pernyataan tersebut, Yunus 2016 menyatakan bahwa aliran esensialisme memandang pendidikan yang bertumpu pada dasar pandangan fleksibilitas dalam segala bentuknya akan menjadikannya berubah-ubah, tidak konsisten, dan tidak terarah. Berdasarkan konsep yang menyatakan bahwa sekolah memiliki fungsi utama, kurikulum juga demikian, sangat spesifik dalam menginstruksikan apa yang disebut keterampilan dasar dan mata pelajaran. Keterampilan dasar dan mata pelajaran tersebut harus 11 ditentukan dengan cakupannya dengan tepat, memiliki urutan, bersifat kumulatif, dan menyiapkan masa depan bagi peserta didiknya. Cakupan yang Spesifik Ahli esensialime meragukan teori dan metode pendidikan yang tidak memiliki cakupan tertentu dan tidak ditentukan sesuai batasannya. Bagi mereka, membaca dan menghitung adalah keterampilan yang harus diajarkan dengan cara tertentu dalam kehidupan anak. Sejarah, sebagai subjek akademik, ditentukan sebagai deskripsi kronologis dan interpretasi masa lalu manusia. Ahli esensialisme meragukan metode interdisipliner seperti pembelajaran bahasa secara utuh dan metode konstruktivisme dan studi luas seperti seni bahasa dan studi sosial. Mereka percaya bahwa untuk sesuatu yang dipelajari itu harus diajarkan. Anak-anak tidak hanya akan memperoleh pengetahuan tentang aritmetika, sejarah, dan geografi sebagai pembelajaran bersamaan, seperti beberapa klaim aliran progresif. Urutan yang Spesifik Para ahli esensialisme percaya bahwa instruksi dalam mata pelajaran dan keterampilan tertentu ditentukan secara luas oleh logika internal pada mata pelajaran atau keterampilan. Dengan kata lain, ada perintah untuk diamati dalam pembelajaran sesuatu. Sebagai contoh, pengajaran sejarah Amerika yang mengikuti urutan kronologis sebagai berikut 1 pertemuan antara penduduk asli Amerika dan Eropa, 2 Kedudukan penduduk Eropa, 3 perang revolusi dan perjuangan untuk kemerdekaan, 4 periode nasional awal, 5 gerakan perbatasan barat, 6 perang sipil dan rekonstruksi, 7 industrialisasi dan imigrasi, 8 gerakan progresif, 9 perang dunia I, 10 taka tertekan, 11 perang dunia II, 12 perang dingin, dan 13 pasca perang dingin. Keberurutan berarti juga bahwa dalam instruksi untuk mete pelajaran tertentu diorganisasikan berdasarkan urutan kompleksitas, abstraksi, dan tingkat kesulitannya. Sebagai contoh, instruksi dalam pelajaran matematika dimulai dengan penghitungan aritmetika dasar, beranjak ke aljabar, selanjutnya ke materi geometri, dan berlanjut ke materi kalkulus dan trigonometri. Prinsip keruntutan berarti bahwa keterampilan dan materi pelajaran dipikirkan berdasarkan penentuan prosedur dan tidak perlu berdasarkan apa yang disukai oleh para siswa saat ini. Kumulatif Bagi para esensialis, progres melalui kurikulum adalah sebuah proses kumulatif. Pada mulanya, pondasi atau keterampilan dasar seperti membaca, menulis dan berhitung, telah dikuasai. Keterampilan dasar tersebut dilihat sebagai kekuatan generatif yang bersifat generik dan dapat digunakan pada banyak operasi/kegiatan. Berdasarkan pada pondasi tersebut, siswa diarahkan pada mata pelajaran yang memiliki kompleksitas tinggi dan membutuhkan pemikiran yang tinggi pula. Efek kumulatif ini mengizinkan siswa-siswa 12 untuk memperoleh “tubuh pengetahuan” yang akan dibutuhkan pada pendidikan selanjutnya, untuk pekerjaan, dan untuk kehidupan pada umumnya. Persiapan Para esensialis melihat patokan di sekolah-melalui progres kurikulum dan promosi untuk-bukan sebagai akhir bagi mereka tetapi sebagai tangga pendidikan untuk menyiapkan ke arah pendidikan yang lebih maju, dunia kerja, sebagai warga negara, dan partisipasi sosial politik yang efektif. Pendidikan adalah sebuah proses dalam memanjat dari anak tangga ke anak tangga berikutnya dalam menyiapkan masa depan siswa. Pendidikan pra-sekolah disiapkan bagi anak-anak untuk menempuh pendidikan dasar, pendidikan dasar dipersiapkan untuk pendidikan menengah, dan seterusnya. Tangga pendidikan diartikulasikan dalam istilah intinya, yaitu kurikulum yang esensial. Sebagai contoh dalam penyusunan kurikulum, institusi tertinggi mengatur semua tujuan dari yang paling bawah, selanjutnya memiliki masukan dan ekspektasi yang dibutuhkan. Kritik terhadap kurikulum pendidikan esensialisme ini menyatakan bahwa bentuk keberurutan dan pengaturan secara ketat cenderung kaku seolah-olah siswa harus berbaris untuk memukul drum. John Dewey, ahli pragmatisme dan pendidik aliran progresif, menyerang doktrin ini dan menyatakan bahwa masa depan yang kita persiapkan akan berbeda secara drastis dari kenyataan yang terjadi saat ini. Pendidikan yang disiapkan secara ketat daripada menyiapkan pegalaman situasi saat ini, menjadi cepat usang. Menurut John Dewey, lebih baik menggunakan metode kecerdasan yang fleksibel yang dapat diaplikasikan untuk mengatasi masalah dan menghadapi perubahan dunia. Sebagai respons dari kritikan tersebut, esensialis menyatakan bahwa keterampilan dasar dan mata pelajaran akan bekerja dengan baik di masa lalu dan lebih disukai lagi di masa akan datang. Tetap Bertahan pada Tugas/kewajiban Para esensialis juga berpendapat bahwa sekolah dan guru perlu tetap fokus/bertahan pada tugas utama dan tidak dialihkan ke daerah nonakademik. Ketika para esensialis memiliki kepercayaan tentang ekonomi dan politiknya sendiri, mereka cenderung mempercayai bahwa sekolah seharusnya tidak digunakan untuk mengatasi permasalahn sosial dan ekonomi masyarakat. Di saat masalah dapat dieksplorasi pada istilah sub-mata pelajaran yang relevan dengan para siswa, sekolah seharusnya tidak menumpangkan atau mempromosikan politik tertentu, sosial, dan agenda ideologi ekonomi di dalamnya. Mereka seharusnya tidak menggunakan sekolah sebagai agensi indoktrinisasi politik. Lebih lanjut, para esensialis tidak mempercayai bahwa sekolah memiliki power untuk mengatasi masalah sosial dan penyakit masyarakat. Apa yang sekolah dapat lakukan adalah mengajar siswa-siswa tentang keterampilan dasar dan mata pelajaran yang akan dipersiapakan untuk menanganani problem sosial, politik, dan ekonomi di masa akan datang. Para esensialis mengkritik para ahli teori kritis yang menyatakan bahwa para kaum esensialis mengklaim 13 ketidakberpihakkan politik itu adalah omong kosong/palsu. Pertanyaan nyatanya adalah bukan pada ketidakberpihakkan tetapi siapa yang akan mengontrol pembuatan kurikulumnya. DIANA RAVITH, THE ACADEMIC CURRICULUM AND SCHOOLS Dalam Left Back, Diana Ravith berpendapat bahwa kegagalan dalam mereformasi pendidikan pada abad ke-20 ditandai dengan pendidik progresif yang lemah pada fungsi akademik di sekolah. Mereka membuat program yang berbeda bagi siswa-siswa yang berbeda, aliran ini terancam dan lemah dalam menentukan pendidikan karakter di sekolah. Sebagai pengguna buku ini, istilah “kurikulum akademik” tidak bermakna ke arah metode formal, metode hafalan, dan kepasifan siswa yang dikomplain oleh para pendidik dan orang tua. Tidak juga ke arah pembelajaran keterampilan saja. Hal itu lebih cenderung sebagai pengganti untuk studi sistematis pada bahasa dan sastra, ilmu alam dan matematika, sejarah, seni, dan bahasa asing. Studi tersebut secara umum menggambarkan sebagai pendidikan liberal, penyampaian pengetahuan dan keterampilan yang penting, mengolah imajinasi estetik, dan menagajrkan siswa untuk berpikir kritis dan reflektif tentang dunia yang mereka tinggali. Cerita lama pada abad ke-20 oleh ahli sejarah menyatakan bahwa gerakan pendidikan progresif mematikan dan menindas aliran tradisionalisme di kelas, dengan berani mendominasi sekolah-sekolah di Amerika, selanjutnya kehilangan kevitalannya dan layu di pertengahan tahun 1950-an. Paradigma ini diceritakan oleh Lawrence A. Cremin dalam tugas magisternya dengan judul The Transformation of The School Progressivism in American Education, 1876—1957. Dalam buku pentingnya Cremin tersebut, anti-intelektualisme muncul sesekali sebagai produk dari pendidikan progresif pada beberapa abad. Namun, buku ini berpendapat bahwa anti-intelektualisme merupakan konsekuensi tak terhindarkan pada ketegangan pendidikan progresif, terutama pendidikan progresif yang mempengaruhi pendidikan publik di Amerika. Mengapa pendapat tentang masalah masa lalu ini disampaikan sekarang? Seperti kita ketahui, dimanapun kurikulum akademik diencerkan atau dikurangi, banyak siswa didorong melalui sistem pendidikan tanpa manfaat dari hakikatnya. Saat kurikulum akademik kehilangan urgensinya sebagai pusat fokus di sistem pendidikan publik, sekolah kehilangan jangkarnya, misi nyata, komitmen moral yang intens untuk pengembangan intelektual pada masing-masing siswa. Saat ini, sekolah bersaing dengan waktu dan perhatian anak-anak dengan televisi, film, internet, dan media massa lainnya. Mereka harus tahu apa yang dapat dilakukan oleh sekolah itu sendiri. Sekolah harus menegaskan kembali tanggung jawab utamanya untuk pengembangan kecerdasan generasi muda dan karakternya. Sekolah harus melakukan lebih jauh dari sekedar mengajar tentang “how to learn” dan “how to look things up”; mereka harus mengajar siswa tentang pengetahuan apa yang bernilai, bagaimana menggunakan 14 pengetahuan, bagaimana menorganisasi apa yang mereka tahu, bagaimana memahami hubungan amsa lalu dan masa sekarang, bagaimana menyampaikan perbedaan informasi akurat dan propaganda, dan bagaimana mengambil informasi menjadi pemahaman. Jika generasi muda dibebaskan dari studi-studi yang serius, tak terbebani oleh ide signifikan dan kontroversi Amerika dan sejarah dunia yang tak tersentuh oleh penyair besar dan novelis dunia, tanpa menyadari ilmu sains, mereka akan berbalik pada sumber lain untuk informasi dan stimulasi-nya. Jika kita ingin mengklaim ulang sekolah kita sebagai pusat pembelajaran, kita harus tahu bagaimana mereka datang untuk menjadi sesuatu sesuai jalannya. Salah satu kelebihan dari tradisi akademik adalah mengatur pengetahuan manusia dan membuatnya lebih komprehensif bagi para pembelajar. Hal ini akan memberikan penguatan intelektual kepada siapa saja yang ingin memahami pengalaman sosial dan alam sebagai fisik dunia. Sekarang, sebagai orang tua, pendidik, pembuat kebijakan, dan eleman masyarakat lainnya yang mencari standar tinggi, inilah waktunya untuk memperbarui tradisi akademik untuk anak-anak pad abad ke-21. Masyarakat sosial yang luas tidak akan sukses kecuali kalau mereka fokus pada apa yang terbaik untuk mereka lakukan. Mereka tidak dapat sukses sebagai sekolah kecuali kalau hampir semua siswanya kuat dalam literasi dan berhitung, sebagus pemahamannya dalam sejarah dan ilmu alam, sastra, dan bahasa asing. Mereka tidak dapat sukses kecuali kalau mereka mengajarkan siswanya tentang pentingnya kejujuran, tanggung jawab personal, kecerdasan intelektual, industri, kebaikan, empati dan sikap berani. Sekolah harus menyiapkan generasi mudanya untuk memiliki kecerdasan majemuk seperti yang ditulis oleh William T. Harris, bahwa kecerdasan tersebut memungkinkan individu untuk belajar hal-hal baru dan mengambil alih kehidupannya. Mereka harus mengajarkan pada siswanya tentang bahasa simbolis dan ide-ide abstrak. Mereka harus mengajar generasi muda tentang budaya dan dunia yang mereka tempati dan budaya yang ada dari dulu. Tiga kesalahan besar yang ditunjukkan adalah 1 kepercayaan bahwa sekolah harus diharapkan mengatasi semua masalah sosial, 2 kepercayaan bahwa ada porsi kebutuhan anak-anak untuk mengakses pendidikan berkualitas tinggi, 3 kepercayaan bahwa sekolah harus membatasi pengalaman siswa dengan segera dan meminimalisasi atau bahkan menghindari transfer pengetahuan. Asumsi pertama yang menjadikannya kurang fokus yaitu mengalihkan mengalihkan sekolah dari misi yang paling mendasar; kontribusi kedua untuk rendahnya pencapaian dan kebijakan demokratis; ketiga adalah merampas kekuatan intelektual generasi muda yang berasal dari pembelajaran dari pengalaman dan menghindarkan mereka dari berdiri pada pundak raksasa standing on the shoulders of giants pada setiap medan pemikiran dan aksi. Sekolah tidak akan menjadi usang oleh teknologi baru karena perannya sebagai institusi pendidikan lebih penting dari masa lalu. Teknologi dapat menjadi suplemen untuk sekolah 15 tapi tidak untuk menggantikan kedudukannya, bahkan kemajuan teknologi elektronik tidak mampu untuk memutar informasi dunia menjadi pengetahuan yang dewasa matang, sebuah bentuk intelektual magis membutuhkan keterampilan dan pengajaran guru. Untuk menjadi efektif, sekolah harus berkonsentrasi pada misi mendasar untuk pengajaran dan pembelajaran. Dan mereka harus melakukan itu untuk semua anak. Itulah tujuan menyeluruh bagi sekolah pada abad ke-21 ini. Daftar Pustaka Gutek, G. L. 2004. Philosophical and Ideological Voices in Education. New York Pearson Kumral, Orhan. 2014. “Philosophical Change in Education A Desired Primary School Model of Primary School Student Teachers.” International Online Journal of Educational Sciences 6 3524–32. Link, Sharon. 2008. “Essentialism & Perennialism.” Research Starters in Education, 1–6. Null, J. Wesley. 2008. “William Bagley versus Arthur Bestor Why the Standard Story Is Not True.” Educational Forum 72 3, hlm. 200-214. Pierce, Kristin B, and Victor M Hernandez. 2014. “Do Mathematics and Reading Competencies Integrated into Career and Technical Education Courses Improve High School Student State Assessment Scores?” Career and Technical Education Research 39 3213–29. Saidah, Ahmad Hafid. 2015. “Pemikiran Essensialisme, Eksistensialisme, Perenialisme, Dan Pragmatisme Dalam Perspektif Pendidikan Islam.” Jurnal Al-Asas III 1165–178. Thaib, 2015. Esensialisme dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Jurnal Mudarrisuna 4 2731—762. Yunus, H. A. 2016. Telaah Aliran Pendidikan Progresivisme dan Esensialisme dalam Perspektif Filsafat Pendidikan. Jurnal Cakrawala Pendas 2 129—39. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication. Haikal YunusProses pendidikan melibatkan berbagai pihak, sekurang-kurangnya pendidik dan peserta didik. Partisipasi dari berbagai pihak menjadi modal untuk mencapai keberhasilan. Progresivisme dan esensialisme merupakan aliran filsafat pendidikan yang dapat diterapkan sebagai dasar epistemologi untuk mengembangkan pendidikan yang bersifat partisipasif dengan alasan 1 Bahwa keduanya menghendaki agar tidak ada pendidikan bercorak otoriter, sejak berkembangnya aliran ini sampai sekarang; 2 Aliran ini menitikberatkan perhatiannya pada kemajuan Ilmu pengetahuan dan kebudayaan; 3 Pengalaman merupakan dinamika hidup; 4 Progresivisme tidak hanya mengakui akan adanya ide-ide, teori-teori, atau cita-cita, tetapi sesuatu yang ada itu harus bermakna bagi suatu kemajuan atau tujuan yang baik; 5 Progresivisme dan esensialisme mendorong manusia untuk memfungsikan jiwa untuk membina hidup yang dinamis dan tegar dalam menghadapi berbagai persoalan yang silih berganti. Kata Kunci Aliran Pendidikan, Progresivisme dan EsensialismeKristin B. PierceVictor M. HernandezA quasi experimental study tested a contextual teaching and learning model for integrating reading and mathematics competencies through 13 introductory career and technical education CTE courses. The treatment group consisted of students in the 13 introductory courses taught by the CTE teachers who designed the units and the control group consisted of students in all other non-integrated sections of the 13 introductory courses. After a 26-week intervention, 9th and 10th grade student state reading and mathematics test scores were analyzed to determine if the mean change in post-test scores was greater in the treatment group than the mean change in scores in the control group. Quantitative analysis revealed that the integrated CTE courses were statistically significant in improving reading treatment group scores, but not statistically significant in improving mathematics treatment group Wesley NullThis essay challenges the conventional understanding of William Bagley and Arthur Bestor, which suggests that they held similar views in curriculum and teacher education. The author thinks this view is completely wrong and provides a radical new interpretation of Bagley and Bestor that uncovers a lost tradition within the field of education. Drawing on the important distinctions made between Bagley and Bestor in this essay is crucial to rebuilding the teaching profession dalam Perspektif Filsafat Pendidikan IslamM I ThaibThaib, 2015. Esensialisme dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Jurnal Mudarrisuna 4 2 Change in Education A Desired Primary School Model of Primary School Student TeachersG L GutekGutek, G. L. 2004. Philosophical and Ideological Voices in Education. New York Pearson Kumral, Orhan. 2014. "Philosophical Change in Education A Desired Primary School Model of Primary School Student Teachers." International Online Journal of Educational Sciences 6 3524-32. & PerennialismSharon LinkLink, Sharon. 2008. "Essentialism & Perennialism." Research Starters in Education, Essensialisme, Eksistensialisme, Perenialisme, Dan Pragmatisme Dalam Perspektif Pendidikan IslamAhmad SaidahHafidSaidah, Ahmad Hafid. 2015. "Pemikiran Essensialisme, Eksistensialisme, Perenialisme, Dan Pragmatisme Dalam Perspektif Pendidikan Islam." Jurnal Al-Asas III 1165-178. Proses pendidikan melibatkan berbagai pihak, sekurang-kurangnya pendidik dan peserta didik. Partisipasi dari berbagai pihak menjadi modal untuk mencapai keberhasilan. Progresivisme dan esensialisme merupakan aliran filsafat pendidikan yang dapat diterapkan sebagai dasar epistemologi untuk mengembangkan pendidikan yang bersifat partisipasif dengan alasan 1 Bahwa keduanya menghendaki agar tidak ada pendidikan bercorak otoriter, sejak berkembangnya aliran ini sampai sekarang; 2 Aliran ini menitikberatkan perhatiannya pada kemajuan Ilmu pengetahuan dan kebudayaan; 3 Pengalaman merupakan dinamika hidup; 4 Progresivisme tidak hanya mengakui akan adanya ide-ide, teori-teori, atau cita-cita, tetapi sesuatu yang ada itu harus bermakna bagi suatu kemajuan atau tujuan yang baik; 5 Progresivisme dan esensialisme mendorong manusia untuk memfungsikan jiwa untuk membina hidup yang dinamis dan tegar dalam menghadapi berbagai persoalan yang silih berganti. Kata Kunci Aliran Pendidikan, Progresivisme dan Esensialisme Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 2, NO. 1 Januari 2016 ISSN 2442-7470 29 TELAAH ALIRAN PENDIDIKAN PROGRESIVISME DAN ESENSIALISME DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN Yunus Universitas Majalengka ABSTRAK Proses pendidikan melibatkan berbagai pihak, sekurang-kurangnya pendidik dan peserta didik. Partisipasi dari berbagai pihak menjadi modal untuk mencapai keberhasilan. Progresivisme dan esensialisme merupakan aliran filsafat pendidikan yang dapat diterapkan sebagai dasar epistemologi untuk mengembangkan pendidikan yang bersifat partisipasif dengan alasan 1 Bahwa keduanya menghendaki agar tidak ada pendidikan bercorak otoriter, sejak berkembangnya aliran ini sampai sekarang; 2 Aliran ini menitikberatkan perhatiannya pada kemajuan Ilmu pengetahuan dan kebudayaan; 3 Pengalaman merupakan dinamika hidup; 4 Progresivisme tidak hanya mengakui akan adanya ide-ide, teori-teori, atau cita-cita, tetapi sesuatu yang ada itu harus bermakna bagi suatu kemajuan atau tujuan yang baik; 5 Progresivisme dan esensialisme mendorong manusia untuk memfungsikan jiwa untuk membina hidup yang dinamis dan tegar dalam menghadapi berbagai persoalan yang silih berganti. Kata Kunci Aliran Pendidikan, Progresivisme dan Esensialisme _____________________ 1 Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Agama Islam Universitas Majalengka Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 2, NO. 1 Januari 2016 ISSN 2442-7470 30 Pendahuluan Pada dasarnya pendidikan adalah proses memanusiakan manusia secara manusiawi agar peserta didik memiliki kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan merupakan intisari dari tujuan pendidikan, baik dalam hal pembentukan kepribadian, keterampilan maupun sikap dan kemampuan untuk patuh kepada perintah Tuhan, taat beribadah, dan menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi dengan sebaik-baiknya. Dengan kata lain, nilai-nilai kemanusiaan yang diharapkan adalah kesediaan seseorang untuk berserah diri kepada Tuhan sehingga memperoleh keselamatan dan kedamaian. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan pendidikan, diantaranya adalah faktor landasan filsafat, terutama dalam hal menentukan arah dan tujuan pendidikan yang diharmoniskan dengan nilai-nilai filsafat baik secara ontologis, epistemologis, maupun aksiologis. Ontologis berkenaan dengan pertanyaan mengapa harus ada pendidikan, bagaimana merancang pendidikan, serta apa yang ingin dicapai setelah pendidikan dilakukan. Adapun ranah epistemologi berkenaan dengan proses dan pengetahuan apa yang akan digunakan dalam proses serta ilmu pengetahuan apa yang akan diperoleh peserta didik setelah proses ditempuh. Sedangkan aksiologi berkenaan dengan nilai-nilai kegunaan atau manfaat dari pendidikan tersebut. Berkenaan dengan landasan-landasan epistemologi, terdapat berbagai aliran yang dapat digunakan dengan berbagai karakter dan kekhasannya. Dalam penelitian ini, telaah difokuskan kepada dua aliran yang sudah ada sejak lama, yakni aliran progresivisme dan esensialisme. Progresivisme 1. Perkembangan Semula, dalam menempuh perjalanan hidup dan kehidupannya selama berabad-abad silam manusia menghadapi dunia ini hanya dengan kekuatan ototnya. Dengan cara tersebut tidak banyak yang dihasilkan, tidak banyak pula kemajuan yang dialami, sehingga berpengaruh kepada tingkat peradaban masyarakat. Tetapi, keadaan mulai berbeda setelah lahirnya ilmu pengetahuan yang teratur. Dengan ilmu pengetahuan banyak ide baru yang muncul, banyak benda budaya yang tercipta, banyak corak dalam menjalani kehidupan, bahkan seni pun terus berkembang. Sejalan dengan hal itu, manusia secara berangsur mulai menyadari betapa hebatnya kemampuan yang dimilikinya ketika mempergunakan otak sejalan dengan tangan dan anggota badan lainnya secara bersamaan, maka terbayanglah harapan ke depan bahwa dunia ini dapat diperbaiki, lingkungan dapat dirubah sesuai dengan kebutuhan manusia. Tetapi bukanlah karena kesadaran manusia yang berangsur-angsur terhadap hebatnya pengetahuan saja, bahkan ide tentang kemajuan pun pada akhirnya tumbuh dan disadari. Selain itu, lambat laun menusia menyadari pula bahwa dunia ini merupakan jalan bagi upaya pencapaian tujuan hidupnya. Dari segi istilah, pada dasarnya kata progress merupakan kata baru yang baru bisa dipahami serta dimengerti maksud dan arti sebenarnya sekitar abad ke-19. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa maksud dari kata tersebut sekarang ini telah dipergunakan dan dikenal di dalam segala pengalaman hidup yang mengandung ide perbaikan dalam segala aspek kehidupan, seperti bidang politik, kemasyarakatan, hubungan kemanusiaan, ekonomi, kehidupan keluarga, perawatan anak, dan termasuk juga bidang kehidupan beragama. Aliran filsafat progresivisme ini senantiasa berusaha mengembangkan asas kemajuan dalam semua realita, terutama dalam kehidupan untuk tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia. Kemudian, bagi yang menganut aliran ini dalam bertindak harus praktis, dalam Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 2, NO. 1 Januari 2016 ISSN 2442-7470 31 melihat segala sesuatu harus mampu menemukan manfaat dari segi keunggulannya. Menurut Muis 2004, Progresivisme disebut instrumentalisme, eksperimental, atau environmentalisme. Disebut instrumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa potensi atau kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk kesejahteraan, dan untuk mengembangkan kepribadian. Dinamakan eksperimental atau empirik karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekkan asas eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori. Progresivisme dinamakan juga environ-mentalisme karena aliran ini menganggap bahwa lingkungan hidup ini mempengaruhi pembinaan kepribadian seseorang. Muis, 2004. Pendapat lain menyatakan bahwa aliran progresivisme sepaham dengan psikologi pragmatisme yang berpendapat bahwa suatu keterangan itu benar kalau kebenaran itu sesuai dengan realitas, atau suatu keterangan akan dikatakan benar kalau kebenaran itu sesuai dengan kenyataan. Aliran progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang meliputi ilmu hayat, antropologi, dan psikologi. Ilmu hayat berguna bagi manusia untuk mengetahui semua masalah dirinya secara biologis dan kehidupan. Ilmu antropologi berguna bagi manusia agar mengenal dirinya, bahwa manusia memiliki pengalaman dan kemampuan mencipta budaya, sehingga manusia dapat mencari dan menciptakan hal baru. Adapun psikologi berguna bagi manusia bahwa dirinya mampu berpikir, bahkan memikirkan tentang dirinya, tentang lingkungan, pengalaman masa lalu, harapan di masa depan, sifat-sifat alam, serta dapat menguasai dan mengatur alam dan lingkungan untuk memenuhi kebutuhannya. 2. Pandangan Tentang Pendidikan a. Pendidikan Aliran progresivisme ini pernah berjaya di Amerika. Dalam pendidikan, progresivisme merupakan bagian dari gerakan reformis umum bidang sosial-politik yang menandai kehidupan orang Amerika. Progresivisme merupakan teori yang mucul dalam reaksi terhadap pendidikan tradisional yang selalu menekankan kepada metode formal pengajaran. Pada dasarnya teori ini menekankan beberapa prinsip, antara lain; 1 Proses pendidikan berawal dan berakhir pada peserta didik; 2 Peserta didik adalah sesuatu yang aktif, bukan pasif; 3 Peran guru hanya sebagai fasilitator, pembimbing, dan pengarah; 4 Sekolah harus menciptakan iklim yang bersifat kooperatif dan demokratif; 5 Aktifitas pembelajaran lebih focus pada pemecahan masalah bukan untuk mengajarkan materi kajian. Menurut pandangan progresivisme, proses pendidikan memiliki dua bidang garapan, yaitu psikologis dan sosiologis. Dilihat dari segi psikologis, pendidik harus dapat mengetahui potensi dan daya yang ada pada peserta didik untuk dikembangkan. Dengan mengenal hal tersebut, pendidik dapat memilih cara yang tepat dan landasan apa yang akan digunakan. Jika memperhatikan peran pandangan progresivisme di beberapa negara maju, psikologi yang banyak digunakan adalah aliran behaviorisme dan pragmatisme. Hal ini sejalan dengan teori bahwa aliran progresivisme disebut juga instrumentalisme, eksperimental, atau environmentalisme yang erat kaitannya dengan alat, pengalaman, lingkungan, serta kemajuan dan manfaat dari suatu aktivitas yang dilakukan, termasuk aktivitas pendidikan. Dilihat dari segi sosiologis, pendidik harus mengetahui ke mana potensi dan daya itu harus dibimbing agar potensi yang dimiliki peserta didik dapat dirubah menjadi sesuatu yang berguna bagi anak tersebut. Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 2, NO. 1 Januari 2016 ISSN 2442-7470 32 b. Kurikulum Dalam pendidikan, terutama jalur pendidikan formal, kurikulum memegang peranan penting. Kurikulum sebagai jantung pendidikan tidak saja dimaknai sebagai seperangkat mata pelajaran yang dirancang untuk disajikan dalam sebuah program sekolah, melainkan memiliki arti yang lebih luas. Oleh sebab itu, para pakar memaknai kurikulum dengan titik berat yang berbeda. Bahkan ada yang melihat dari arti sempit dan arti luas, ada juga yang melihat dari segi fungsi atau kegunaannya, ada juga yang melihat dari segi ruang lingkupnya. Musgave menekankan pengertian kurikulum pada ruang lingkup, terutama yang berkenaan dengan pengalaman belajar, baik pengalaman di luar maupun di dalam lingkungan sekolah. Aktifitas dan pengalaman peserta didik seyogyanya selalu berada dalam pengawasan lembaga pendidikan sekolah. Kemudian, Hirts dan Petters mengemukakan pengertian kurikulum dengan menekankan pada aspek fungsional. Dalam hal ini, kurikulum diposisikan sebagai rambu-rambu yang menjadi acuan dalam proses pendidikan, khususnya dalam pembelajaran. Progresivisme memiliki pandangan bahwa kurikulum merupakan pengalaman mendidik, bersifat eksperimental, dan adanya rencana serta susunan langkah yang teratur. Pengalaman belajar berupa pengalaman apa saja yang serasi dengan tujuan menurut prinsip-prinsip yang telah digariskan dalam pendidikan, di mana setiap proses pembelajaran yang ada membantu pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. Dalam prakteknya, progresivisme merupakan aliran pendidikan yang berpusat pada siswa. Secara lebih spesifik, proses pembelajaran penekanan lebih besar diarahkan pada kreativitas, aktivitas, belajar naturalistik, hasil belajar dunia nyata empiris, dan pengalaman teman sebaya. Menurut Dewey, dalam konteks sekolah progresivisme lebih menekankan pada peserta didik dan minatnya dibanding pada mata pelajaran itu sendiri. Oleh karena itu, muncul istilah child centered curriculum dan child centered school. Progresivisme mempersiapkan peserta didik masa kini dibanding masa depan yang belum jelas. Hal ini diungkapkan juga oleh Dewey, bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. Implikasinya, pandangan Dewey tentang pendidikan yang berlandaskan aliran progresivisme menyatakan bahwa aktifitas peserta didik perbanyak terlebih dahulu dalam berpartisipasi pada kegiatan fisik, baru kemudian diarahkan pada peminatan Barnadib, 1997. Dalam ajaran Islam, pendidikan menempati posisi yang tinggi dan strategis, karena hanya melalui pendidikan orang dapat memperoleh ilmu, dan dengan ilmu orang mengenal dirinya, Tuhannya, dan alam semesta. Selain itu, hanya dengan pendidikanlah seseorang dapat memahami posisi dirinya di samping posisi Tuhan, sehingga akan muncul kesadaran tentang ibadah dan mematuhi Tuhannya. Dalam urusan dunia, dengan pendidikan manusia akan mampu menghadapi berbagai rintangan selama menjalani hidup dan kehidupannya. Khusus ilmu, dalam ajaran Islam merupakan hal yang sangat penting, sehingga menuntut ilmu hukumnya wajib. Dibandingkan dengan hal lain, ilmu memiliki keunggulan luar biasa, bahkan ibadahpun tidak akan diterima tanpa didasari ilmu. Demikian pula apabila dikaitkan dengan strata sosial. Tinggi rendahnya derajat seseorang, di samping iman dan takwa juga di tentukan oleh kualitas keilmuannya. Oleh karena ilmu dapat menentukan kualitas seseorang, maka keberadaan pendidikan sebagai sebuah proses perolehan ilmu menjadi sangat penting. Karena itu, proses pencarian ilmu harus terus menerus dilakukan, dimana pun kdan apanpun, baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 2, NO. 1 Januari 2016 ISSN 2442-7470 33 Essensi pendidikan dalam ajaran Islam dipahami sebagai sebuah proses transformasi dan internalisasi nilai-nilai ajaran Islam terhadap peserta didik, melalui pengembangan potensi sesuai fitrahnya agar memperoleh keseimbangan hidup dalam semua aspeknya, terutama keseimbangan antara dunia dan akhirat. Dengan demikian fungsi pendidikan Islam pada hakikatnya adalah proses pewarisan nilai-nilai Islami untuk menggembangkan potensi manusia, dan sekaligus proses produksi nilai-nilai budaya Islam baru sebagai hasil interaksi potensi dengan lingkungan dan konteks zamannya sesuai ruang lingkup filsafat pendidikan Islam di atas mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam sebagai sebuah disiplin ilmu Nata, 1996. Dalam hal pendidikan secara umum, kurikulum sebagai inti pendidikan tidak saja dimaknai sebagai seperangkat rangkaian mata pelajaran yang ditawarkan sebagai jiwa dalam sebuah program pendidikan di sekolah, tetapi kurikulum pun mengandung makna yang lebih luas. Oleh karena itu, para pakar memaknai kurikulum dengan titik berat yang berbeda. Hirts dan Petters menekankan pada aspek fungsional, dalam hal ini kurikulum diposisikan sebagai rambu-rambu yang menjadi acuan dalam proses pembelajaran. Selain itu, kurikulum dijadikan acuan juga oleh pengelola lembaga pendidikan, karena sarana dan prasarana serta pendukung lainnya harus disiapkan agar benar-benar sesuai dengan tuntutan kurikulum. Makna lain dari kurikulum dikemukakan oleh Musgave yang lebih menekankan pada ruang lingkup pengalaman belajar yang meliputi pengalaman di luar maupun di dalam sekolah. Pendapat Musgave ini sejalan dengan pendapat Stephen yang menyatakan bahwa kurikulum mencakup semua materi pelajaran, aktivitas dan pengalaman peserta didik, dimana ia berada dalam pengawasan lembaga pendidikan, baik yang terjadi di luar maupun di dalam kelas. c. Pendidik Di Indonesia, menurut Undang-Undang No. 14 tahun 2004 tentang Guru dan Dosen, pada Pasal 1 ayat 1 dikemukakan bahwa “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan”. Menurut pandangan filsafat progresivisme guru adalah penasihat, pembimbing, pengarah dan bukan sebagai orang pemegang otoritas penuh yang dapat berbuat apa saja otoriter terhadap muridnya. Guru disebut sebagai pembimbing karena mempunyai ilmu pengetahuan dan pengalaman yang banyak di bidang pendidikan, memahami karakter peserta didik yang secara otomatis semestinya guru mampu menjadi penasihat manakala peserta didik mengalami jalan buntu dalam memecahkan persoalan yang dihadapi. Oleh karena itu peran utama pendidik adalah membantu peserta didik bagaimana mereka harus belajar dengan diri mereka sendiri, sehingga peserta didik akan berkembang menjadi orang dewasa yang mandiri dalam lingkungannya yang akan selalu berubah. Secara teoretis, John Dewey mengemukakan bahwa guru harus mengetahui ke arah mana anak akan berkembang, karena anak hidup dalam lingkungan yang senantiasa terjadi proses interaksi dalam sebuah situasi yang silih berganti dan berkelanjutan. Dalam penerapannya, prinsip keberlanjutan mengandung arti bahwa masa depan harus selalu diperhitungkan di setiap Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 2, NO. 1 Januari 2016 ISSN 2442-7470 34 tahapan dalam proses pendidikan. Dalam hal ini, guru harus mampu menciptakan suasana kondusif di dalam kelas dengan cara membangun kesadaran bersama dari setiap individu dalam upaya mencapai tujuan bersama. Upaya tersebut sesuai dengan tanggungjawab masing-masing dalam konteks pembelajaran di dalam kelas, dan selalu konsisten pada tujuan tersebut Muis, 2004. Berkenaan dengan hal tersebut, teori progresivisme menyatakan bahwa tugas pendidik adalah sebagai pembimbing aktivitas peserta didik dan berusaha untuk memberikan kemungkinan terhadap terciptanya lingkungan terbaik yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Guru sebagai pembimbing, tidak boleh menonjolkan diri, melainkan harus bersikap demokratis dan memperhatikan hak-hak alamiah dari para peserta didik secara keseluruhan. Pendekatan yang digunakan dalam proses ini adalah pendekatan psikologis dengan keyakinan bahwa memotivasi lebih penting daripada sekedar memberi informasi. Pendidik dan peserta didik bekerja sama dalam mengembangkan program belajar dan aktualisasi potensi peserta didik dalam kepemimpinan dan kemampuan lain yang dikehendaki dalam pendidikan. Dengan demikian dalam teori ini pendidik harus memiliki kelebihan dibanding manusia lainnya, antara lain jeli, teliti, telaten, konsisten, luwes, dan cermat dalam mengamati apa yang menjadi kebutuhan peserta didik, juga sanggup menguji dan mengevaluasi kepampuan-kemampuan peserta didik dalam tataran praktis dan realistis. Hasil evaluasi menjadi acuan untuk menentukan pola dan strategi pembelajaran selanjutnya. Dengan kata lain pendidik harus mempunyai kreatifitas dalam mengelola peserta didik, dalam arti akan berkembang dan bervariasi sebanyak variasi para peserta didik yang berada di bawah tanggungjawabnya. d. Peserta Didik Di Indonesia, menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada Pasal 1 angka 4, dinyatakan bahwa “Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu”. Teori progresivisme menempatkan peserta didik pada posisi sentral dalam melakukan pembelajaran. karena peserta didik mempunyai kecenderungan alamiah untuk belajar dan menemukan sesuatu tentang dunia di sekitarnya dan juga memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu yang harus terpenuhi dalam kehidupannya. Kecenderungan dan kebutuhan tersebut akan memberikan kepada peserta didik suatu minat yang jelas dalam mempelajari berbagai persoalan. Peserta didik adalah makhluk yang memiliki kelebihan dibanding dengan makhluk-makhluk lain karena peserta didik memiliki potensi kecerdasan. Oleh karena itu, setiap peserta didik mempunyai potensi atau kemampuan sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan dan memecahkan permasalahan-permasalahan yang mungkin merintanginya. Berkenaan dengan hal ini, tugas guru atau pendidik adalah meningkatkan kecerdasan potensial yang telah dimiliki sejak lahir menjadi kecerdasan realitas dalam lapangan pendidikan untuk dapat merespon segala perubahan yang terjadi di lingkungan di mana ia hidup dan beraktifitas. Pandangan progresivisme mengenai belajar bertumpu pada pandamgan peserta didik sebagai mahluk yang mempunyai kelebihan dibandingkan mahluk lain Barnadib. 1994. Secara institusional sekolah sebagai lembaga pendidikan harus memelihara dan manjamin kebebasan berpikir dan berkreasi kepada para peserta didik, sehingga mereka memilki kemandirian dan aktualisasi diri. Namun demikian, pendidik tetap berkewajiban mengawasi dan mengontrol mereka guna meluruskan kesalahan yang Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 2, NO. 1 Januari 2016 ISSN 2442-7470 35 dihadapi peserta didik, khususnya dalam metodologi berpikir. Dengan demikian prasyarat yang harus dilakukan oleh peserta didik adalah sikap aktif dan kreatif, bukan hanya menunggu kedatangan guru dalam mengisi dan mentransfer ilmunya kepada mereka. Peserta didik tidak boleh diperlakukan seperti bejana kosong yang akan diisi oleh penggunanya. Jika yang terjadi demikian, maka proses pembelajaran hanya berwujud transfer of knowledge dari seorang guru kepada murid. Tentu saja cara demikian tidak akan membawa hasil apalagi mencerdasakan sehingga dapat dikatakan bahwa upaya mencapai tujuan pendidikan mengalami kegagalan. e. Pandangan Belajar Menurut Gagne 1977, “belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang kebaradaannya berbeda dari sebelum individu ada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu”. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan yang terjadi tanpa sengaja atau serta-merta terjadi akibat perilaku yang bersifat naluriah. Hal ini berbeda dengan teori pendidikan progresivisme yang intinya bagaimana mengajarkan cara belajar yang tepat, sehingga seseorang dapat belajar setiap saat dari realitas secara mandiri, baik di dalam maupun di luar sekolah, pada saat, sedang, ataupun setelah menyelesaikan pendidikan formal. Dengan demikian sekolah akan dapat menghasilkan individu-individu yang cerdas, kreatif, dan inovatif yang pada gilirannya nanti dapat melakukan transformasi budaya positif ke arah yang lebih baik dari masyarakat yang progresif. Jika seseorang telah memiliki kemampuan seperti itu, di mana pun berada akan mampu bertahan dari berbagai hambatan dan mampu memecahkan masalah kehidupan. Dalam prakteknya, pendidikan yang berlandaskan aliran progresivisme memerlukan model yang sesuai. Di Indonesia, pendidikan seringkali mendapat kritikan dari berbagai pihak, karena dianggap belum memiliki model yang jelas dengan acuan yang pasti, bahkan ada yang menganggap bernuansa coba-coba. Alasan yang sering dikemukakan karena penampilan pendidikan itu sendiri masih abstrak dan masih belum menyentuh realitas budaya Indonesia yang khas. Berkaitan dengan konteks pendidikan modern saat ini, pendidikan di Indonesia lebih mengedepankan corak atau pola pemikiran rasionalis-empiris, kemudian berkembang berbagai konsep atau teori pendidikan nativisme, empirisme, dan konverguensi. Di samping itu, muncul pula aliran progresivisme, essensialisme, perenialisme, dan rekonstruksionisme. Dalam konsep seperti itu, peserta didik diberi kebebasan untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya baik secara fisik maupun cara berpikirnya. Peserta didik bebas juga dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. Dengan demikian, progresivisme tidak menyutujui pendidikan otoriter,sebab akan mematikan daya kreasi peserta didik baik secara fisik mapupun psikis. Barnadib, 1997. Berkaitan dengan hal tersebut, John Dewey sebagai salah seorang tokoh progresivisme, memiliki peranan yang cukup besar. Dimana alirannya ini sangat berpengaruh terhadap pembaharuan pendidikan dan dengan pandangannya, progresivisme dianggap sebagai the liberal road to culture dalam artian bahwa liberal berarti berani toleran dan transparan. Esensialisme 1. Pengertian Pada dasarnya, filsafat pendidikan esensialisme bertitik tolak dari kebenaran yang dianggap telah terbukti selama berabad-abad lamanya. Jika dilihat dari segi proses perkembangannya, esensialisme merupakan perpaduan antara ide-ide filsafat Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 2, NO. 1 Januari 2016 ISSN 2442-7470 36 idealisme dan realisme. Aliran tersebut akan tampak lebih mantap dan kaya akan ide-ide, apabila hanya mengambil salah satu dari aliran atau posisi sepihak. Pertemuan dua aliran tersebut bersifat elektik, yakni keduanya berposisi sebagai pendukung, tidak ada yang melebur menjadi satu atau tidak melepaskan identitas dan ciri masing-masing Anwar, 2015. 2. Karakteristik Essensialisme Esensialisme yang bekembang pada zaman renaissance mempunyai tinjauan yang bebeda dengan progresivisme, yaitu mengenai pendidikan dan kebudayaan. Progresivisme menganggap bahwa pendidikan penuh dengan fleksibilitas, serba terbuka untuk perubahan, tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu, toleran, serta nilai-nilai yang dimilikinya dapat berubah dan berkembang. Oleh karena itu, aliran esensialisme memandang bahwa pendidikan bertumpu pada dasar pandangan fleksibilitas dalam segala bentuk yang dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, mudah goyah dan kurang terarah, tidak menentu dan kurang stabil. Maka dari itu, idealnya pendidikan harus berpijak di atas nilai-nilai yang sekiranya dapat mendatangkan kestabilan, telah teruji oleh waktu, tahan lama, serta nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan telah terseleksi Anwar,2015. Adapun nilai-nilai yang dianggap dapat dijadikan pijakan, yaitu nilai-nilai yang berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif. Puncak refleksi dari gagasan ini adalah pada pertengahan abad kesembilan belas Barnadib, 1997. 3. Konsep Pendidikan Esensialisme Kaum esensialis mengemukakan bahwa sekolah harus melatih, mengajar, atau mendidik peserta didik untuk mampu berkomunikasi dengan jelas dan logis, Keterampilan-keterampilan inti kurikulum harus berupa membaca, menulis, berbicara dan berhitung. Selain itu, sekolah bertanggungjawab untuk memperhatikan penguasaan peserta didik terhadap keterampilan-keterampilan tersebut, karena implementasi kurikulum membutuhkan dukungan media, sarana, dan lingkungan yang memadai. Menurut filsafat esensialisme, pendidikan sekolah harus bersifat praktis dan memberi pengajaran yang logis dan mampu mempersiapkan suatu keterampilan bagi kehidupan peserta didik. Dalam hal ini, sekolah tidak boleh mempengaruhi atau menetapkan kebijakan sosial. a. Tujuan Pendidikan Dalam konsep essensialisme, pendidikan bertujuan untuk meneruskan warisan budaya dan warisan sejarah melalui pengetahuan inti yang terakumulasi dan telah bertahan dalam kurun waktu yang lama. Budaya tersebut merupakan suatu kehidupan yang telah teruji oleh waktu dalam tempo lama. Selain itu tujuan pendidikan esensialisme adalah mempersiapkan manusia untuk hidup. Namun demikian bukan berarti sekolah lepas tanggung jawab, akan tetapi memberi kontribusi tentang bagaimana merancang sasaran mata pelajaran sedemikian rupa, yang pada akhirnya memenuhi kebutuhan peserta didik untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kehidupan. c. Kurikulum Beberapa tokoh aliran esensialisme memandang bahwa kurikulum yang digunakan adalah kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran atau subjek matter centered dan berpangkal pada landasan ideal dan organisasi yang kuat. Penguasaan materi kurikulum tersebut merupakan dasar yang bersifat essensialisme general education yangdiperlukan dalam hidup. Belajar dengan tepat berkaitan dengan disiplin yang diyakini akan mampu mengembangkan pikiran peserta didik dan sekaligus membuatnya sadar akan dunia fisik di sekitarnya Barnadib, 1997. Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 2, NO. 1 Januari 2016 ISSN 2442-7470 37 Dengan demikian, tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di duni dan akhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut isi pendidikan mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakan kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi esensialisme merupakan semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran dari suatu kenyataan, kebenaran dan kegunaan. Maka dalam proses perkem-bangannya, kurikulum esensialisme mene-rapkan berbagai pola kurikulum, seperti pola idealisme, realisme, behavriorisme, dan sebagainya sehingga peranan lembaga pendidikan formal atau sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan dapat berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada di lingkungan masyarakat. d. Peranan Guru dan Sekolah. Peranan sekolah adalah memelihara dan menyampaikan warisan budaya dan sejarah pada generasi muda dewasa ini, melalui hikmat dan pengalaman yang terakumulasi dari disiplin tradisional. Selanjutnya mengenai peranan guru banyak persamaan dengan perenialisme. Guru memegang peran lebih khusus, di mana guru dianggap sebagai seorang yang menguasai lapangan, subjek khusus dan merupakan model yang baik untuk digugu dan ditiru. Guru merupakan orang yang mengusai pengetahuan, ilmu. Dalam pendidikan formal, kelas berada di bawah pengaruh dan pengawasan guru Barnadib, 1997. e. Prinsip-prinsip pendidikan Prinsip-prinsip pendidikan yang dianut aliran esensialisme adalah sebagai berikut 1 Pendidikan harus dilakukan melalui usaha keras, karena pendidikan tidak begitu saja timbul dari dalam diri siswa. 2 Inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru bukan pada siswa. 3 Inisiatif proses pendidikan adalah asimilasi dari mata pelajaran yang telah ditentukan. 4 Sekolah harus mempertahankan metode-metode trasdisional yang bertautan dengan disiplin mental. 5 Tujuan akhir pendidikan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umum merupakan tuntutan demokrasi yang nyata. 6 Metode-metode tradisional yang bertautan dengan disiplin mental merupakan metode-metode yang diutamakan dalam proses pendidikan di sekolah. Dengan demikian, pendidikan yang berlandaskan aliran essensialisme berusaha mengenal potensi peserta didik untuk dikembangkan melalui upaya lembaga pendidikan secara sistemik. Dalam hal ini peserta didik didorong untuk belajar sendiri dengan bimbingan dan arahan guru, sedangkan metode tradisional digunakan sebagai upaya pembentukan mental peserta didik melalui internalisasi nilai-nilai budaya yang telah mengakar di masyarakat di mana sekolah itu berada, dalam arti proses pendidikan beserta pembentukan mental peserta didik tidak terlepas dari budaya yang telah teruji dan terbukti unggul di masyarakat bersangkutan. Telaah Komparasi Aliran filsafat progresivisme dan essensialisme merupakan buah pemikiran filsuf barat. Kedua aliran tersebut telah diterapkan di negara-negara barat setelah teori tersebut dipublikasikan oleh tokoh penemunya. Para penganut aliran essensialisme sendiri, dapat mengkritik praktek pendidikan progresivisme karena telah diterapkan dan terlihat hasilnya, diantaranya adalah peserta didik diberi kebebasan mengembangkan potensi dirinya didorong oleh guru yang berfungsi sebagai penunjuk jalan. Dari segi keilmuan memang tampak berkembang pesat, karena peserta didik didorong untuk aktif dan Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 2, NO. 1 Januari 2016 ISSN 2442-7470 38 kreatif didampingi oleh guru sebagai pasilitator, tetapi terdapat kelemahan dari segi mental dan kering dari nilai-nilai budaya. Oleh karena itu, kaum essensialis mengemukakan konsep dan gagasan praktek pendidikan yang lebih mementingkan dasar nilai-nilai moral yang diambil dari budaya yang telah digunakan selama berabad-abad di masyarakat. Artinya, substansi pendidikan harus berakar pada budaya yang ada di masyarakat di mana lembaga pendidikan itu berada. Oleh karena itu, penggunaan metode pendidikan harus benar-benar dikuasai guru yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi. Metode tradisional dianggap paling cocok, karena telah terbukti mampu mewariskan nilai-nilai budaya lokal secara turun temurun. Sifatnya tradisional tetapi telah teruji keberhasilannya. Selain itu, untuk mengendalikan agar peserta didik tidak diberi kebebasan tanpa batas, kaum essensialis mengemukakan pandangannya bahwa sekolah harus mampu menjadi pengendali kontrol terhadap proses pendidikan, sehingga pencapaian tujuan sesuai dengan apa yang diinginkan. Di Indonesia, landasan pendidikan yang mengakar kepada filsafat tersebut, paling tidak landasan progresivisme dan esensialisme belum terbentuk dan nampak secara jelas. Bahkan terdapat kesan dari opini publik bahwa praktek pendidikan di Indonesia bernuansa coba-coba, setiap paradigma yang muncul dikait-kaitkan dengan pola yang pernah diterapkan di negara lain. Padahal, apabila dikaji secara cermat berbagai teori telah ada, tinggal bagaimana para pengambil kebijakan mensikapinya. Secara umum, filsafat yang telah terbentuk secara nyata di Indonesia baru filsafat Pancasila, aliran filsafat lainnya hanya dirujuk secara teoretis parsial. Mensikapi dua aliran filsafat yang memiliki karakter berbeda, untuk dapat diterapkan dalam sistem pendidikan memang bukan pekerjaan gampang. Tetapi secara sederhana, setelah dikaji keunggulan dan kelemahan masing-masing, bisa saja keunggulan dari kedua aliran tersebut digabungkan, dalam arti satu sama lain saling melengkapi. Persis seperti landasan pendidikian secara psikologis, antara nativisme dengan behaviorisme dapat diharmoniskan. Selain daripada itu, bagi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, dapat juga mempertimbangkan filsafat pendidikan Islam. Kesimpulan Upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan memerlukan paradigma yang jelas, guna dijadikan dasar dalam penetapan tujuan yang ingin dicapai. Banyak aliran filsafat yang dapat dijadikan acuan sebagai landasan, diantaranya adalah aliran progresivisme dan essensialisme yang masing-masing memiliki karakter dan ciri tersendiri. Teori pendidikan yang dirancang berdasarkan filsafat progresivisme yang digagas Jhon Dewey, pada dasarnya mengutamakan lima hal, yaitu a Kurikulum yang baik disusun berdasarkan pengalaman edukatif bersifat eksperimental, disusun secara sistematis dan teratur serta tidak memaksakan diri untuk mengikuti kehendak pembuat kurikulum. b Guru harus memiliki keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan dan sekaligus menguasai bidang ilmu tersebut. Dalam proses mendidik, guru tidak sepatutnya bertindak otoriter terhadap peserta didik, sehingga tugas guru adalah mengarahkan dan membimbing bagaimana cara belajar yang baik dan benar bagi peserta didik. Dalam hal ini, guru dapat dikatakan memiliki fungsi sebagai petunjuk jalan yang bijak. c Peserta didik memiliki potensi masing-masing individual yang harus diberi kesempatan untuk berkembang secara wajar, aktif, kreatif, dan memiliki kebebasan untuk mengaktualisasikan dirinya Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 2, NO. 1 Januari 2016 ISSN 2442-7470 39 dalam menentukan langkah dan tujuannya. d Lingkungan merupakan hal penting yang tidak dapat dipisahkan dengan proses pendidikan sebagai penunjang keberhasilan. e Metode yang digunakan dalam proses pendidikan harus diutamakan dibanding materi ajar, karena metode menunjang proses. Pendidikan esensialisme merupakan suatu aliran yang kurang setuju terhadap praktek pendidikan progressivisme, dengan alasan bahwa pergerakan progresivisme dianggap akan merusak standar intelektual dan moral kaum muda dengan diberikannya kebebasan. Bagi aliran essensial, metode yang digunakan adalah metode tradisional yang menekankan pada inisiatif guru. Dalam hal ini, guru harus orang terdidik dan menguasai ilmu pengetahuan. Selain itu, seluruh aktifitas kelas harus berada di bawah kendali dan penguasaan guru. Secara kelembagaan, esensialis menginginkan agar sekolah berfungsi sebagai subjek proses pewarisan budaya dan sejarah yang mengandung nilai-nilai luhur dari para filosof sebagai ahli pengetahuan dimana nilai-nilai kebudayaan itu masih tetap terjaga dan diterapkan dalam tata kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai moral yang berakar pada budaya masyarakat dijadikan dasar bagi pembentukan mental para peserta didik. Di Indonesia, para pengambil kebijakan bidang pendidikan perlu meningkatkan intensitasnya dalam mengkaji aliran-aliran filsafat tersebut guna diambil manfaatnya demi kemajuan pendidikan secara menyeluruh. Mewaspadai kelemahan disertai dengan mempertimbangkan keunggulan dari aliran progresivisme dan esensialisme merupakan tindakan bijak. DAFTAR PUSTAKA Abudin, Nata. 1996. Filsafat Pendidikan Islam. Ciputat Wacana Ilmu dan Pemikiran. -, 2003. Metodologi Studi Islam, Jakarta Raja Grafindo Persada. Anwar, Muhammad. 2015. Filsafat Pendidikan. Jakarta Prenada Media Group As’adi. Anwar, Saeful. 2007. Filsafat Ilmu Al-Ghazali Dimensi Ontologi dan Aksiologi. Bandung CV. Pustaka Setia. Abdullah, M. Yatimin. 2007. Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an. Jakarta Amzah. Al-Abrasyi, Muhammad, Athiyah. 1974. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. terj. Bustami Abdul Ghani dan Bohar Bahri. Jakarta Bulan Bintang. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta PT. Rineka Cipta. Barnabid, Imam. 1997. Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode, Yogyakarta Andi Offset -. 1994. Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode. Yogyakarta. Djumransyah. 2004. Filsafat Pendidikaan, Malang Bayu Media. Edward, P. dan Yusnadi. 2015. Filsafat Pendidikan, Medan UNIMED Press. Muis, 2004. Pendidikan Partisiptif Menimbang Konsep Fitrah dan Progesivisme Jhon Dewey, Yogyakarta Safaria Insania Press. Pidarta, M. 2000. Landasan Kepedidikan, Jakarta Rineka Cipta. Tafsir, Ahmad. 2004. Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi Pengetahuan, Bandung Remaja Rosdakarya. ... Pengembangan kurikulum ini tidak boleh statis dan dapat diubah Barnadib, 1997. Sudut pandang lain berpendapat bahwa kurikulum harus mempromosikan kreativitas, aktivitas, pembelajaran naturalistik, hasil belajar dunia nyata, dan pengalaman Yunus, 2016. Jadi kesimpulannya, progresivisme menekankan bagaimana menyelesaikan sesuatu daripada informasi apa yang disajikan, dan tidak memiliki kurikulum bagi mereka yang benar-benar menganutnya. ...... 4 Tujuan pendidikan progresif adalah untuk membina kemitraan antara keluarga dan sekolah yang memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengekspresikan semua minat mereka secara organik dan terlibat dalam kegiatan yang mereka butuhkan Mudyaharjo, 2006. Landasan proses pembelajaran berdasarkan filsafat pendidikan adalah bagaimana mengajarkan metode pembelajaran yang tepat, memungkinkan seseorang untuk belajar mandiri dari kenyataan setiap saat, baik di dalam maupun di luar kelas, selama atau setelah menyelesaikan pendidikan formal Yunus, 2016. Berdasarkan pemaparan pandangan metodologi pembelajaran berdasarkan pada perspektif progresivisme dan elearning, dapat disimpulkan bahwa keduanya memiliki kesamaan, terutama dalam sumber belajar dimana progresif dan e-learning samasama memungkinkan siswa menemukan bahan ajar yang berkualitas. ...... Kemandirian dan kebebasan siswa dibangun melalui progresivisme. Siswa diberi kebebasan untuk mengembangkan bakat dan keterampilan bawaannya baik secara fisik maupun mental Yunus, 2016. Berkaitan dengan pandangan ini, progresivisme selalu dikaitkan dengan frase "liberal route to culture", yakni liberal bersifat fleksibel cair dan tidak kaku, toleran dan berpikiran terbuka, serta sering ingin mengetahui dan menyelidiki untuk tujuan memperluas pengalaman Mustaghfiro, 2020. ...Adek Nilasari Harahap Azwar AnandaMukhaiyar MukhaiyarTinur Rahmawati HarahapE-learning merupakan ide baru yang lahir dari kemajuan teknologi di bidang pendidikan. Penemuan e-learning sejalan dengan sikap aliran progresivisme yang meyakini bahwa pendidikan harus selalu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Masalahnya, aliran progresivisme dan e-learning selain menawarkan perubahan yang tidak hanya merugikan dunia pendidikan, tetapi juga membawa sejumlah kemudahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji e-learning dari sudut pandang progresivisme sehingga dapat dilihat dengan jelas seberapa cocok kedua konsep tersebut dengan pendidikan Indonesia saat ini. Kajian pustaka terhadap berbagai tulisan yang berkaitan dengan e-learning dengan menggunakan teori aliran progresivisme digunakan sebagai bagian dari metode penelitian. Kesimpulannya, ada kesamaan antara filosofi progresivisme dan e-learning, yaitu dari segi arah inovasi dan perubahan pendidikan. E-learning berfokus terutama pada pengembangan teknik pembelajaran, sedangkan progresivisme mencakup pertumbuhan semua aspek pendidikan, termasuk teknik, materi, kurikulum, dan tujuan, agar tetap mengikuti perkembangan zaman. Aliran progresivisme memandang pendidikan sebagai sesuatu yang dinamis dalam bergerak menuju kemajuan zaman, dan e-learning merupakan respon dari dunia pendidikan terhadap perubahan tersebut. Akibatnya, e-learning adalah produk progresivisme.... Filsafat esensialisme ini juga menekankan bahwa sekolah wajib melatih, mengajarkan, dan mendidik siswa untuk memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta logis. Kemampuan inti dalam kurikulum diwajibkan memuat membaca, menulis, komunikasi, dan calistung Yunus, 2016. ...... Filsafat ini memiliki sudut pandang bahwa kurikulum yang dipakai merupakan kurikulum yang berorientasi pada materi pelajaran, serta bermula pada pijakan yang ideal serta organisasi yang kokoh. Penguasaan materi pelajaran adalah landasan yang meiliki sifat esensialisme general education yang dibutuhkan dalam kehidupan Yunus, 2016. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa filsafat esensialisme adalah aliran filsafat pendidikan dengan tujuan utama dari sekolah adalah pelestarian, serta transmisi elemen kebudayaan manusia. ...Astuti J. CopriadyL. N. FirdausEthnomathematics is considered as a program that aims to learn how students can understand, process, and then use mathematical ideas that can solve problems related to their daily activities. The role of the existence of ethnomathematics is to recognize that there are different ways of doing mathematics taking into account the knowledge of academic mathematics developed by society taking into account different cultures. Essentialism is one of the schools that can contribute and requires a culture in learning mathematics. According to this understanding, education must be based on cultural values that have existed since the beginning of human civilization. The philosophy of essentialism education emphasizes that there is no rigid learning interaction, but rather the meaning of scientific and cultural progress and values that are firmly held in life. The purpose of this paper is to determine the relationship and implementation of the philosophy of essentialism education with ethnomathematics. This article uses the literature study method. The data is obtained from some of the research results contained in books, journals, and proceedings that have a relationship with the title of the article. The results show that the view of essentialism is related to ethnomathematics. Essentialism can make a great contribution to the development and progress in the application of ethnomathematics in schools... Aliran tersebut akan tampak lebih mantap dan kaya akan ide-ide, apabila hanya mengambil salah satu dari aliran atau posisi sepihak. Pertemuan dua aliran tersebut bersifat elektik, yakni keduanya berposisi sebagai pendukung, tidak ada yang melebur menjadi satu atau tidak melepaskan identitas dan ciri masing masing Yunus, 2016 Konsep Pendidikan Esensialisme Kaum esensialis mengemukakan bahwa sekolah harus melatih, mengajar, atau Kolokium Antarabangsa Penyelidikan Siswazah Pengajian Islam KAPSI 2022 eISBN 978-967-19878-6-5 8 Jun 2022 Platform Dalam Talian Anjuran bersama oleh Universiti Kebangsaan Malaysia, UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, UIN Antasari Banjarmasin, UIN Alauddin Makassar & UIN Jamber 252 mendidik peserta didik untuk mampu berkomunikasi dengan jelas dan logis, Keterampilanketerampilan inti kurikulum harus berupa membaca, menulis, berbicara dan berhitung. Selain itu, sekolah bertanggungjawab untuk memperhatikan penguasaan peserta didik terhadap keterampilan-keterampilan tersebut, karena implementasi kurikulum membutuhkan dukungan media, sarana, dan lingkungan yang memadai. ...... Pendidikan memiliki definisi yang berbeda-beda. Yunus 2016 berpendapat bahwa pendidikan ialah proses penanaman nilai-nilai kemanusiaan pada peserta didik agar memiliki kemampuan untuk memanusiakan manusia. Nurkholis 1970 menuliskan bahwa dalam pendidikan mencakup tiga dimensi yang memainkan peran dalam membentuk dan menentukan nasib serta sifat manusia, ketiga dimensi tersebut ialah individu, masyarakat nasional individu serta realitas materi maupun spiritual. ...Irma SulistiowatiThe philosophy of essentialism holds that a stable foundation is needed in the implementation of education. Educators as centers in process of knowledge and moral transfusion. Learners as passive objects who only accept what is taught by the teacher. The pandemic period provides a change in learning from face-to-face in class to online learning. As for the view of essentialism, the role of educators has changed. In history learning, the control and transfusion of historical knowledge of educators cannot be fully carried out on students. The existence of this change, responds pros and cons in society. People who agree give reasons that online learning allows students to gain the freedom to add insight, but still have a stable foundation in history learning. Meanwhile, the opposing community argues that online learning in terms of essentialism reduces the role of educators in controlling and guiding students. This type of research is a qualitative research with a descriptive approach. The data collection method is observation participant and historical research. Filsafat esensialisme berpandangan bahwa perlu landasan yang stabil dalam pelaksanaan pendidikan. Pendidik sebagai sentra dalam proses transfusi ilmu dan moral. Peserta didik sebagai objek pasif yang hanya menerima apa yang diajarkan oleh pendidik. Masa pandemi memberikan perubahan pembelajaran dari bertatap muka secara langsung dikelas menjadi pembelajaran online. Adapun dalam pandangan esensialisme peran pendidik menjadi berubah. Pada pembelajaran sejarah kontrol dan transfusi ilmu sejarah pendidik tidak bisa sepenuhnya dilakukan pada peserta didik. Adanya perubahan ini memberikan tanggapan pro dan kontra dalam masyarakat. Masyarakat yang setuju memberikan alasan, bahwa pembelajaran online memberikan kesempatan peserta didik kebebasan dalam menambah wawasan namun tetap memiliki landasan yang stabil dalam pembelajaran sejarah. Sedangkan masyarakat yang menentang berpendapat bahwa pembelajaran online dalam sudut esensialisme mengurangi peran pendidik dalam mengontrol dan membimbing peserta didik. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Adapun metode pengumpulan data adalah observasi partisipan dan penelitian sejarah.... Hal ini terjadi sebab siswa secara alamiah akan berupaya mencari tahu dengan mempelajari apa yang ada di sekitanya supaya kebutuhan hidupnya dapat dipenuhinya. Kecenderungan dan kebutuhan tersebut akan memberikan kepada siswa suatu minat yang jelas dalam mempelajari berbagai persoalan Yunus, 2016. Pandangan ini melihat bahwa siswa seharusnya dididik agar menjadi insan yang mampu melihat dan memahami kehidupan di masa yang akan datang sebagai salah satu cara membuat kehidupan menjadi lebih baik lagi. ...... A curriculum based on the philosophy of progressivism emphasizes a flexible and open curriculum that can be changed, shaped, and developed according to the times and science and technology. Curriculum development in progressivism must be based on student's needs, interests, and initiatives, not frozen, and can be revised so that what is suitable is an experience-centered curriculum practice Barnadib, 1990;Yunus, 2016. ...Blended learning research has been developed recently. Still, research has yet to examine the rationale for emerging trends and issues regarding TPACK and Blended Learning in terms of educational philosophy. This article focuses on analyzing blended learning based on TPACK Technological Pedagogical Content Knowledge from the perspective of the philosophy of progressivism. The educational philosophy of progressivism requires making progress consistently and applying it comprehensively, constructively, and innovatively. In progressivism philosophy, every human being also needs a change to be invariably developed and get improvement. The research method used is qualitative. This research uses library research to explore relevant concepts using various writings on blended learning and TPACK and then analyzed using the progressivism theory. This article explores the results of a literature review on blended learning, TPACK, and progressivism philosophy. A few books and articles published from 2006 to 2021 were searched using Harzing's Publish and Perish through Scopus, Google Books, and Google Scholar databases. The systematic review followed the PRISMA Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analyses guidelines. The literature review includes 44 articles and books on blended learning, TPACK, and progressivism philosophy. In this context, a conclusion can be drawn where TPACK-based Blended Learning is an innovation in education following the needs and developments of the times, which is the implementation of the philosophy of progressivism. TPACK-based blended learning results from the philosophy of progressivism, which considers education to be moving in the direction of the times. The philosophy of progressivism requires a fundamental change in the implementation of education towards a better, quality, and real benefit for students. Rino RichardoRima Aksen Cahdriyanap class="15">Tujuan penelitian untuk mendeksripsikan konsep filsafat esensialisme, pandangan esensialisme terhadap belajar, pendidik dan sekolah, program Merdeka Belajar Kampus Merdeka MBKM, serta posisi esensialisme dalam program MBKM. Penelitian ini merupakan studi pustaka library research . Sumber data merupakan buku dan artikel ilmiah elektronik. Teknik pengumpulan data yaitu menelusuri data secara online melalui database google cendikia. Sedangkan analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis isi. Hasil kajian dalam studi ini menunjukkan bahwa esensialisme sebagai filsafat pendidikan berperan dalam memberikan dasar pijakan dalam mengembangkan kebijakan redesain kurikulum berbasis MBKM, sehingga kegiatan MBKM dapat memfasilitasi tercapainya kompetensi utama sekaligus kompetensi tambahan bagi mahasiswa.

kelebihan dan kekurangan aliran esensialisme